Mengapa?

Begitu hinakah aku dihadapan-Mu???

Begitu rendahkah aku dalam status pandang-Mu???

Begitu tak berharganya kah aku dalam penglihatan-Mu???

Begitu tak pantaskah aku untuk ada di dekat-Mu???

Begitu bencinya kah Kau padaku???

Begitu tak berdayanya kah aku???

Begitu tak sudi nya kah Kau menengokku???

Begitu tak pedulikah Kau denganku???

Begitu besar kah kesalahan yang ku perbuat???

Begitu tak ada artinya kah aku dihadap-Mu???

mengapa??? mengapa??? dan mengapa???

 

tak pantaskah lagi aku ada di hadap-Mu??, apa sungguh begitu hina kah aku di hadapan-Mu

mengapa Kau tak berkenan mengusap ku dengan lembut?

mengapa Kau menjauh dariku?

mengapa Kau biarkan aku menangis sendiri?

mengapa Kau biarkan aku terpuruk sendiri?

mengapa Kau biarkan aku sakit seperti ini?

mengapa?? mengapa?? dan mengapa??

 

apa aku sudah benar-benar kotor dihadap-Mu ya Rabb,,,?

hingga Kau tak berkenan mengusap tangisku

Ya Rabb, hanya kau tempatku bergantung

jika Kau sudah tak berkenan mendekat padaku, lalu kemana lagi tempatku bersandar?

tak ada yang mampu memberiku sandaran selain-Mu

tak ada yang mampu mengusap tangisku ini

tak ada yang mampu Wahai Engkau Yang Maha Pengasih

 

perhatian hanya manusia hanya semu, sementara

dan mereka tak pernah peduli denganku

tak ada yang bisa mempedulikan aku selain Engkau

manusia egois, hanya sibuk dengan pribadi mereka sendiri

mereka tak bisa menjadi tempat untukku berlabuh

tak ada yang bisa, dan tak akan pernah ada yang bisa

 

begitu kelamkah hidupku Sang Maha Kekal?

hingga Hidayah itu belum ku dapati

 

tak ada yang mampu menunjuki ku terangnya Surga, kecuali tuntunan-Mu Yang Maha Mengetahui

Ampuni aku, ,

beriku jalan pulang,

aku sudah merasa tersesat cukup jauh…

 

astaghfirullah haladzim…

astaghfirullah haladzim…

 

terima sujudku Wahai Engkau Sang Pengatur Hidup

terima permohonan ampunku

 

tak tahu apa jadinya aku, tanpa belas kasih-Mu

aku tak  ingin banyak berharap pada hamba-mu yang lain

karena mereka juga sama, lemah sepertiku

dan mereka juga tak akan mampu menghapus luka yang selalu menderaku

 

Hanya Engkau yang mampu

Hanya Engkau….

 

Berharap secercah Cahaya itu segera singgah di hidupku….

Leave a comment »

ITB, Aku datang menghampirimu

ITB, siapa yang tak kenal dengan kampus itu?

kampus yang dipercaya banyak mencetak orang-orang hebat di negeri ini,

ya…walaupun ku bukan mahasiswa ITB, namun setidaknya ku akan menginjakkan kakiku kesana

tentu bukan untuk bermain-main atau hanay sekedar suapaya dibilang “wahh, kamu sudah pernah ke ITB ya”, bukan itu yang ingin ku peroleh, bukan itu..

aku kesana dengan membawa mandat besar, dengan mimpi besar, dengan cita panjang, dan berharap bisa mendapat ilmu banyak, yang nantinya ku terapkan di kampusku dan ku tularkan ke adik-adikku

IMSS, ya itulah acara besar nan megah yang mengundangku agar aku melangkahkan kaki ke ITB,

acara yang tidak hanya dihadiri oleh ratusan mahasiswa indonesia, namun dari luar negeri pun tak kalah juga,

satu amanat besar dipundakku, belajar dari “Gamais ITB”, LDK yang Subhanallah menjadi percontohan di seluruk LDK di indonesia, bahkan untuk LDK kampusku juga

aku yang dulu pernah rapuh, aku yang dulu sempat membelot dengan jama’ah ini, aku dulu yang nakal, dan aku dulu yang tak peduli dengan bangsaku, dan aku yang dulu telah ku kubur dalam-dalam, mencoba untuk tidak kembali pada aku yang dulu. karena aku yang dulu, amat sangat menjadi beban bagi jama’ah ini, dan mengapa dakwah ini tidak segera memenuhi kemenangan? ya karena aku, karena aku yang tak patuh jama’ah, karena aku tak berjalan sesuai syari’atnya, dan sekali lagi itu dulu…

 

kini, aku mencoba untuk bangkit, bangkit dari luka, bangkit dari rasa kecewa, dan bangkit untuk tegak berdiri menyongsong JIhad

Allah, sungguh baik. jika tidak mungkin sekarang ku sudah pergi dari jama’ah ini, untung Allah masih mau memberiku hidayah, untung Allah masih berkenan memberiku petunjuk,

Subhanallah, Allah tak pernah berhenti memberi ampunan padaku

dan sekarang, aku harus berkorban, dan sekarang aku harus berkontribusi pada-NYA, dan sekarang aku harus menolong agama-Nya…

di ITB, langkah awal kebangkitan itu akan ku mulai

disana, aku akan banyak mendapat ilmu, yang insyaALLAH akan ku ajarkan di jalan-Mu Ya Rabb…

Bismillah, semoga Allah meridloi apa yang kita cita kan,,,,

sebaik-baik rencanaku, tentu lebih indah rencana-mu untuk diriku…

 

Leave a comment »

Titik perjalanan awalku di “Bumi AREMA”

tak kusangka, dan mungkin tak pernah terbayangkan olehku, akan ku singgahi kota ini

kota yang tak begitu asing deanganku, karena dulu ku sempat singgah di kota ini selama 1 bulan

kota yang terkenal sebagai kota pendidikan, kota dingin, bahkan kota yang amat sangat banyak menawarkan tempat wisata

ehm…kota dingin? sepertinya kota sudah tidak layak di sebut kota dingin, karena dingin yang sekarang ku rasakan tak sedingin ketika awal ku menginjak kaki di bumi AREMA ini. 

ya…tepat Malang sang BUMI AREMA

*aku adalah seorang mahasiswi semester 5 jurusan administrasi pendidikan

coba tebak aku kuliah dimana??

yupss..anda betul saya adalah salah satu mahasiswi di salah satu pergurun tinggi di BUMI AREMA, tepatnya di Universitas negeri Malang, yang dulu bernama IKIP Malang

anda pasti bertanya apa alasan saya memilih universitas ini sebagai tempat saya menggapai mimpi??

saya sebenarnya juga tidak tahu jawabannya, mengapa saya memilih kota AREMA ini

dibilang salah pilih universitas mungkin, dibilang takdir Tuhan juga bisa, dibilang kecewa keterima disini nggak juga, dibilang senang keterima disini, sepertinya “IYA”

*saya masuk UM atau nama lain universitas negeri Malang, melalui jalur SBBM yaitu seleksi beasiswa bidik misi

saya dulu memilih 2 PTN untuk mengajukan beasiswa tersebut. satu di UNESA dan satu lainnya di UM ini. awalnya dulu saya tidak ingin mengikuti SBBM ini, karena saya masih ragu apakah ini benar2 beasiswa atau tidak? karena saya takut jika nantinya saya harus membebani orang tua saya dengan menyekolahkan saya dengan biaya yang tentunya tidak murah untuk sekualitas perguruan tinggi, ditambah lagi dengan masuknya adik saya di SMK. namun, teman2 ku terus memotivasi aku agar akau mengikuti seleksi tersebut. dan ternyata ada pengumuman dari sekolah secara resmi bahwa SBBM itu benar2 beasiswa untuk masuk perguruan tinggi yang mana biaya kuliah kita 100% ditangung pemerintah.

lega, ya sedikit lega mendengar beritanya secara langsung dari guruku. dan akhirnya aku bertekad untuk mengikuti seleksi SBBM tersebut.

semua persyaratan telah ku penuhi, dan aku juga sudah mengantongi izin dari kedua orangtua.

izin untuk mau mengambil jurusan apa nantinya juga selalu ku konsultasikan dengan beliau. namun orangtua mempercayakan 100% padaku tentang jurusan apa yang ingin aku ambil

karena aku dulu siswa SMK akuntansi, maka aku putuskan pada pilihan pertama di masing2 PTN ku tulis akuntansi, namun untuk pilihan keduany beda. untuk di UNESA pilihan keduanya aku tulis psikologi. kenapa aku milih psikologi? karena aku tertarik dengan dunia psikologi, sehingga aku emutuskan dan berharap bisa mempelajarinya lebih dalam

lain lagi pemilihan jurusan ku di UM, yang bisa dibilang mbulet..hehhe

awalnya aku ingin memilih akuntansi dan pendidikan akuntansi, namun entah mengapa disaat pendaftaran online jurusan pendidikan akuntansi tidak kutemukan, sampai bingung aku mencarai jurusan itu. kesulitan mencari pendidikan akuntansi tidak hanya ku alami sendiri, namun teman seperjuanganku ainur yang sama2 memilih di Um juga mengalami kesulitan mencarai jurusan pendidikan akuntansi. kemudian dia memutuskan memilih administrasi pendidikan, dan dia juga menganjurkan aku untuk memilih jurusan itu. awalnya aku sempat sangsi dan ragu terhadap jurusan yang dipilihkannya, karena jujur aku tidak tahu jurusan apa itu administrasi pendidikan?, namun otakku mencoba untuk melogika sendiri, ya ku anggap administrasi itu sebagai keuangan, karena sering kita melihat bahwa administrasi selalu berhubungan dengan keuangan. dan akhirnya aku menerima saran dari temanku.

KLIK OK, sudah terkirim dataku…

huft…tinggal menunggu pengumuman..

*terbangunkan aku disaat adzan subuh berkumandang, dan tak lama kemudian hp ku pun berbunyi, ya telepon dari Bapakku tersayang. di pagi buta itu hanya 1 yang beliau ingin tahu dariku. “piye hasil pengumumane?” (bagaimana hasil pengumumannya), dengan lugas ku menjawab, “tasek dereng pak, kulo ningaline mangke jam 9, (masih belum pak, saya melihatnya nanti jam 9).

dan kejutan ku dengarkan dipagi itu, “Bapak yakin nak, lek sampean keterimo”, (bapak yakin kalau kamu diterima), dan karena shock, aku hanya berkata “Aamiin”,

*Hp ku sejak pagi penuh dengan bunyi sms, yang tak diragukan lagi pasti menanyakan hasil pengumuman SBBM,

temanku yang sudah rajin melihat pengumumannya duluan, meng-sms aku.

Sita, kamu keterima lho di UM, begitu bunyi smsnya,

dengan shock dan sedikit ternganga, aku pun membalasnya “iya tah?? ku belum lihat, kamu kata siapa? trus yang keterima siapa saja?”

dengan cepat balasan sms pun ku terima, “aku lihat sendiri, yang keterima di UM cuma kamu”

subhanallah, bagaimana nggak shock coba dengan kalimat itu..

akhirnya ku bergegas untuk pamit ke warnet melihat pengumumannya, padahal makan ku masih belum ku habiskan, dan aku pun sudah tak selera makan setelah mendengar kabar tersebut..

yuhuuu…langsung ku ayuh sepeda onthel ku dengan rasa deg-degan…

*huft…masuk warnet, serasa masuk sidang eksekusi, tangan dingin, dan hati dag dig dug nggak karuan. akhirnya ku bisa masuk alamat webnya dengan lancar tanpa ada gangguan lemot,,

aku sudah dikasih tahu kalau keterima di UM, namun pengumuman yang ku buka terlebih dahulu adalah yang dari UNESA, sambil berharap2 cemas ku juga masuk disana,

satu persatu nama ku amati, dan tidak kudapati namaku ada disitu…

hiks, hiks, kucoba ulangi berkali-kali, berharap mungkin namaku terlewati, dna Allah berkehendak lain aku masih belum bisa berkesempatan melanjutkan disana

dan khirnya web UM baru ku buka, rasa deg-deg an itu tetap masih ada,

dan apa yang terjadi, pertama kali ku buka, nama yang paling atas adalah namaku “Dyah Rosita Sari”, (karena memang nomor pendaftaranku lebih awal daripada ke-8 temanku yang lain yang diterima).

shock, tak percaya, senang, atau kecewa yang kurasakan??

ehm..aku rasa semuanya itu ku rasakan.

kecewa, iya, karena keinginanku untuk berkumpul dengan orangtuaku harus pupus. mengapa? karena semenjak SMP aku tinggal di Jombang dengan nenekku. ya, kami hanya tinggal berdua. dan sebenarnya keputusan untuk meninggalkan nenekku dan melanjutkan studi ke surabaya itu juga keputusan yang berat, karena aku tak tega meninggalkan beliau sendiri, namun disisi lain aku ingin dengan orangtuaku. dan akhirnya Keputusan Allah-lah yang terbaik, aku tidak melanjutkan sekolah di surabaya dan juga tidak berdomisili di jombang.

mungkin ini, keputusan yang terbaik dari semuanya, agar tidak ada yang merasa terdzolimi dengan keputusanku, dan rencana Allah lebih indah dari rencana yang telah ku tulis…

senang, karena alhamdulillah akau bisa melanjutkan studi dengan beasiswa dan aku tidak membebani orangtuaku dengan biaya kuliah yang tentunya membengkak…

bingung, iya, itu pun juga ku rasakan, karena aku keterima di jurusan”Adminstrasi pendidikan”, yang notabene nya aku tidak mengetahui seluk-beluk jurusan itu..

namun, apapun yang ku rasakan, tetap ku syukuri nikmat-Mu Ya RABB,

apapun itu jurusannya, semoga membawa berkah dan lagi-lagi “aku tidak mengetahui, sedangkan Engkau Maha Mengetahui”…

Barakallah, semoga ilmu di jurusan ini, mampu ku terapkan dan ku mampu berkontribusi untuk-MU dan agama-MU…

Leave a comment »

DIA yang ku pilih bukan dia

Rasa itu berawal dari kedatangannya pada hati yang kosong ini. Dia memberi harapan dan kasih yang tak pernah ku dapatkan sebelumnya. Dia mampu mengoyak hati ini. Dia mampu meyakinkanku. Dia mengajariku banyak hal, dia mengajariku kemandirian. Ku mampu meyakinkan diriku bahwa aku bisa, yang sebelumnya ku tak mampu berkata demikian. Dia yang membuat semangat hidupku ada. Ahnya. Mengapa Dia yang membuat aku yakin akan diriku sendiri.
Tak lama berselang, tiba-tiba ku kehilangan sosoknya. Dia menghilang entah kemana, tak da kabar sedikitpun darinya. Ku cemas seolah kehilangan berlian yang berharga. Ku terjatuh..
Menangis di tengah kelelapan malam, mengharap dia kembali lagi.
Tak ada jawaban dari pintaku, ku putuskan untuk mengakhiri ini.
Saat ku mulai hidup tanpa kehadirannya, betapa kagetnya aku “ saat ku mendengar suaranya”. Tak mampu berucap. Saat ku tahu dia akan kembali lagi padaku. Sungguh ku tak menyangkanya. Dan alhasil, ku menggagalkan keputusan ku untuk mengakhiri ini. Dia semakin dekat denganku, dia semain jauh membuat ku “bahwa aku butuh dia”. Entah pakai jurus apa dia, hingga mampu membuatku seperti ini. Disaat bunga itu mulai merekah dalam hidupku, tiba-tiba kejadian yang sama terulang kembali. Ku kehilangan dia lagi, ku merintih lagi di tengah kebahagiaan orang di sekelilingku. Mengapa hanya sekejap ku merasa indahnya. Mengapa tak sampai nanti ku bersamanya. Mengapa ku harus berpisah. Mengapa? Dan mengapa???
Keterpurukanku tak cukup berhenti sampai disini, lagi-lagi karena dia. Ku melihat dengan mata kepalaku, ada janur kuning berkibar di depan rumahnya. Percaya tak percaya ini telah terjadi. Ku mencoba mencari alibi dari kenyataan ini. Ku mencoba tersenyum walau ini sulit ku terima.
Dia menghilang dengan begitu cepat, dan begitu cepat pula kutemukan dia telah bersanding dengan yang lain??. Kecewa, sedih, dan semuanya berkecamuk dalam dada. Sesak rasanya menahan bendungan kesedihan ini.
Bunga yang baru merekah tiba-tiba layu dalam sekejap.
Tak ingatkah dia denganku??? Tak berartikah kebersamaan yang walau hanya sekejap itu???
Tak berartikah diriku baginya??
Hancur… hanya itu yanng mampu ku katakan.
Mengapa kekecewaan ini hinggap disaat aku membutuhkanmu lebih??
Mengapa tak ada kata perpisahan darimu??
Kau meninggalkanku begitu saja. Banyak kata tanya yang kau tinggalkan untkku. Dan kapan kau akan menjawabnya??
Aku benar-benar berada pada keadaan paling bawah.
Ku tak mampu berdiri dengan kenyataan ini??
Sungguh..ku tak sanggup.
Entah telah berapa ribu butir airmata jatuh membasahi bunga yang layu ini. Mungkin bunga itu sudah tidak layu lagi, bahkan dia sudah kering dan mati.
Tak dapatkah ku lihat lagi senyuman itu??
Tak dapatkah ku dengar lagi kata sayang itu??
Mengapa kau campakan hati yang tulus ini??
Mengapa kau buang aku begitu saja??

Ku coba bertahan dan menata pondasi yang telah roboh ini. Ku coba perlahan menghapus bayangan dan sketsamu dalam benakku. Saat dunia penuh tawa, saat dunia sesak penuh riang, ku hanya mampu tersenyum simpul melihat itu semua. Dan hanya keheningan yang kini ingin ku gapai.
Ku benci dengan keramaian ini. Mereka tak tahu apa yang tengah aku rasa. Mereka tak berempati kepadaku. Mereka tak paham akan sesak di dada ini.
Ku mencoba menepi di tengah keramian. Ku ingin pergi jauh dari keramian yang amat menyiksa. kU ingin kedamaian, ku ingin kesunyian dan ku ingin kesendirian. Aku rapuh, aku bingung mau kemana. Tak ada yang ku jadikan pegangan. Sosok yang dulu ku banggakan, telah pergi. Pergi jauhhhh sekali. Entah kemana. Aku pun tak sanggup lagi menemuinya. Aku masih ingat kapan terakhir ku bertemu dengannya. Sepertinnya itu sudah lama sekali.. ku tak mampu menghapusnya, ku tak mampu membuang kenangan itu begitu saja. Dia tak tahu apa yang ku rasa. Kesulitan menghapus jejaknya, masih erat ku rasa. Sampai kapan rasa ini membelengguku??? Membuat ku bimbang, membuatku berharap yang tak ada..
Dia tlah berdua dengan pilihan-NYA, lalu apa yang masih aku harapkan?? Aku sudah tidak ada harapan lagi untuk bersamanya?? Mengapa manis itu harus berakhir kepahitan. Kepahitan yang tak pernah ku inginkan. Apa aku salah mempertahankannya. Walau aku tahu, itu tak mungkin. Tapi… kenapa hati ini sulit untuk merelakannya??
Andaikan umur kita sama. Pasti ini tak aakan terjadi. Apakah umur yang memisahkannya?? Jarak yang terpaut cukup lama, membuatnya harus pergi dahulu. Pergi melepas kesendiriannya.
Aku pergi meninggalkan kota kita bertemu. Namun,, apa yang ku rasa tak bisa hilang begitu saja. Ya..sempat u bisa melupaannya, namun.. ketika kesedihan menghampiri, hanya dia yang kku inginkan, hanya dia yang ku harap mampumenghapus kesedihan itu.
1 tahun ku pergi dari kota itu, tak banyak yang berubah dari dirikku. Aku mencoba membuangnya, mencoba melupakannya dan menggantinya dengan yang pasti mencintaiku. Dia selalau ada untukku, dia selalu menjagaku, dia selalu mengawasiku. Tapi aku tak menyadarinya..
Ku mulai berubah dengan mendekat kapada-Nya, dan mulai menjauh darinya. Ya..tak mudah ku lakukan ini. Terkadang rasa rindu itu masih sering menghiasi hati.
Tapi, aku tak inngin banyak menabur benih dosa. Dan aku pun tak ingin memadu cinta yang tulus dari-NYA. Ku mulai mendekati-NYA, ku mulai mencintai-NYA. Ku tak ingin menduakan-NYA. Aku hanya ingin cinta yang halal yang datang dari-NYA bukan dari dia.
Jalanku selama ini salah. Ku ingin menuntun diriku pergi kedalam-NYA. Ku ingin membuang yanng lalu, menghapus yang lalu, dan membuka hatiku hanya untuk-NYA.
Dia selalu memberi apa yang ku inginkan. Dia kekal dan tak kan tergantikan oleh siapapun.
Kini ku menyadarinya DIA lah yang pantas ku cintai bukan dia.
Dia tak mampu memberi apa yang ku in nginkan, dia pun juga tak mampu menuntunku dari kesesatan ini.
Kata cinta buatnya telah kuganti dengan cinta untuk-NYA. Ku menggadaikan semua cintaku pada-NYA. Ku berikan segenap pengorbanan sisa hidupu hanya kepada-NYA. Dia tak mengharap cinta dariku, namun aku yang berharap DIA mencintaiku.
Sebelum jauh ku melangkah, ingin segera ku akhiri pencarian cinta ini. Dan telah ku putuskan hanya pada-NYA lah cintaku kan berpaut.

Leave a comment »

Inginku Kehalalan itu

Untuk calon suamiku, maafkan aku yang sebelum ku berjumpa denganmu ku sempat menaruh hati pada kaum adam yang lain. Ku sempat mencintanya dan ku sempat bertekuk lutut dihadapnya. Maafkan aku yang tak sepenuhnya menjaga hati ini untukmu. Maafkan jika hatiku telah ternoda oleh nafsu sesaat. Kini ku hanya berharap agar segera dipertemukan denganmu oleh-NYA. Agar biar tak ada lagi kesempatan bagiku untuk menuai cinta yang haram ini. Jujur aku menginginkan cinta yang halal, yang dari cinta itu ku memperoleh barokahnya. Mungkin hanya denganmu kelak, ku akan meraih barokah itu. Ku menunggumu disini dengan mengkosongkan hati ini dari cinta dunia yang hanya nafsu dan buaian belaka. Aku tak tahu apakah dulu kau juga pernah mencinta seperti ku, ku tak akan mempermasalahkan masa lalumu. Karena yang akan ku raih denganmu kelak bukanlah masa lalu, namun masa depan kita. Ku berusaha Menahan pandanganku dari pandangan yang haram, walau terkadang setan sering menggodaku. Ku tak ingin lagi membagi hati ini pada adam yang lain. Ku hanya ingin hati ini kelak hanya ku persembahkan kepadamu suamiku. Kaulah cinta suci yang dari ALLAH. Dan hanya ALLAH yang akan mempersatukan kita bukan yang lain. .

Ya ALLAH jaga pandanganku dari nafsu syahwat ini, aku tak ingin lagi menuai benih keharaman dalam diriku. Sudah cukup yang lalu saja, kini ku hanya ingin mempersembahkan diriku seutuhnya hanya untuk adam yang telah kau takdirkan untukku.

Leave a comment »

Tak kan pernah hilang

Rasa yang dahulu masih enggan berpindah, dia tetep mengisi di hari-hariku. Walau tak mungkin lagi ku memilikinya, tapi entah mengapa ku masih mengharapkannya. Aku sadar 100% terhadap apa yag sedang ku alami, sungguh ku akui aku masih setia disini untukmu. Mungkin aku sudah pernah merasa dengan yang lain, namun entah mengapa ketika ku sedih hanya namamu yang ku ingat, hanya dirimu yang ku inginkan, dan hanya bayangmu yang mampu ku rasa. Entah sampai kapan aku kan bertahan terhadap kondisi yang seperti ini??

Kau yang pertama untukku, namun kau bukan terakhir untukku. Kau memberiku sesuatu hal yang sebelumnya belum pernah ku mendapatkannya, walau hanya sekejap namun begitu indah kenangan yang melekat, walau singkat ucapmu namun begitu berharga waktu yang telah lewat itu, walau hanya semu pertemuan itu namun ku begitu menikmatinya. Aku yang dahulu begitu terbuai olehmu, kau mampu meyakinkan aku dengan segala ucapmu. Sungguh dulu ku ingin bersamamu selamanya. Bahkan kau telah memberiku janji, janji untuk kita berdua. Namun, sekali lagi itu hanya janji kenangan yang tak akan pernah kau buktikan padaku. Karena janji yang kau ucapkan padaku, telah kau ikrarkan dengan yang lain.

Sakit,,?? Mungkin iya,, aku merasa sakit dan kecewa. Namun apa daya ku… inilah takdir TUHAN kasih. Tak ada satu pun yang mampu mengusiknya.

Walau telah berjalan tahun-tahun ini, namun ku akui di lubuk hatiku yang terdalam, CINTA yang dulu pernah ada di diriku masih tersimpan untukmu hingga detik ini ku menuliskannya. Belum pudar masih sama seperti yang dulu.

Ehm..tak seharusnya aku seperti ini, tak seharusnya aku tergila-gila padamu, dan tak seharusnya pula ku mempertahankan rasa yang tak pasti ujungnya. Hanya lewat tulisan ini diiringi gemericik hujan, dan dinginnya sang bayu kan menghantarkan ku untuk merasakan dekatnya dirimu. Hanya lewat hati ini ku mampu menyapamu. Menyapamu dalam kesemuan yang tiada akhir.

 

Dibawah guyur hujan, 310112, (qibita@me, 300486)

Leave a comment »

Model-model pembelajaran

Sistem pembelajaran sosial sangat terkait dengan sistem lingkungan belajar peserta didik. karena sistem sosial berfokus pada interaksi dengan orang lain, atau pengalaman interpersonal. Hubungan fasilitator (guru) – pembelajar (peserta didik)merupakan hal yang sangat penting untuk terwujudnya kondisi belajar yang mengoptimalkan potensi peserta didik. Sebagai seorang guru atau fasilitator, tanggung jawab utama kita adalah memberi iklim psikoligis dan fisik yang positif sehingga dapat mengorkestrasikan pembelajaran yang merupakan bagian utama dari pengembangan iklim emosional, intelektual dan sosial.
Dalam keadaan demikian guru berkolaborasi dengan siswa sebagai mitra setara dalam petualangan memecahkan masalah, alih-alih sebagai gudang informasi yang menyimpan dan membagikan jawaban atas semua masalah. Dengan keadaan seperti ini, maka sistem sosial otak akan belajar berkontrribusi terhadap pengambilan keputusan nyata oleh orang-orang lintas usia(guru-murid), ras, budaya, etnis, kemampuan intelektual, dan kecakapan akademis. Sekaligus mereka (peserta didik) belajar memandang perbedaan sebagai suatu kelebihan diantara mereka. Di sinilah akan terlihat suatu nilai bahwa peran guru sangat penting dalam meningkatkan toleransi dan pemahaman akan perbedaan.
Dalam model pembelajaran sosial terdapat beberapa model pembelajaran di antaranya:

A. MODEL PEMBELAJARAN YANG BERWAWASAN MASYARAKAT

1. Model Pembelajaran Partisipatif
a. Konsep Pembelajaran Partisipatif
Pembelajaran partisipatif pada intinya dapat diartikan sebagai upaya pendidik untuk mengikutsertakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yaitu dalam tahap perencanaan program, pelaksanaan program dan penilaian program.
Partisipasi pada tahap perencanaan adalah keterlibatan peserta didik dalam kegiatan mengidentifikasi kebutuhan belajar, permasalahan, sumber-sumber atau potensi yang tersedia dan kemungkinan hambatan dalam pembelajaran.
Partisipasi dalam tahap pelaksanaan program kegiatan pembelajaran adalah keterlibatan peserta didik dalam menciptakan iklim yang kondusif untuk belajar. Dimana salah satu iklim yang kondusif untuk kegiatan belajar adalah pembinaan hubungan antara peserta didik, dan antara peserta didik dengan pendidik sehingga tercipta hubungan kemanusiaan yang terbuka, akrab, terarah, saling menghargai, saling membantu dan saling belajar.
Partisipasi dalam tahap penilaian program pembelajaran adalah keterlibatan peserta didik dalam penilaian pelaksanaan pembelajaran maupun untuk penilaian program pembelajaran. Penilaian pelaksanaan pembelajaran mencakup penilaian terhadap proses, hasil dan dampak pembelajaran.

b. Ciri-ciri Pembelajaran Partisipatif
Berdasarkan pada pengertian pembelajaran partisipatif yaitu upaya untuk mengikutsertakan peserta didik dalam pembelajaran, maka ciri-ciri dalam kegiatan pembelajaran partisipatif adalah :
1) Pendidik menempatkan diri pada kedudukan tidak serba mengetahui terhadap semua bahan ajar.
2) Pendidik memainkan peran untuk membantu peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
3) Pendidik melakukan motivasi terhadap peserta didik untuk berpartisipasi dalam pembelajaran.
4) Pendidik menempatkan dirinya sebagai peserta didik.
5) Pendidik bersama peserta didik saling belajar.
6) Pendidik membantu peserta didik untuk menciptakan situasi belajar yang kondusif.
7) Pendidik mengembangkan kegiatan pembelajaran kelompok.
8) Pendidik mendorong peserta didik untuk meningkatkan semangat berprestasi.
9) Pendidik mendorong peserta didik untuk berupaya memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya.

c. Peran Pendidikan Dalam Pembelajaran
Peran pendidik dalam pembelajaran partisipatif lebih banyak berperan sebagai pembimbing dan pendorong bagi peserta didik untuk melakukan kegiatan pembelajaran sehingga mempengaruhi terhadap intensitas peranan pendidik dalam pembelajaran.
Pada awal pembelajaran intensitas peran pendidik sangat tinggi yaitu untuk menyajikan berbagai informasi bahan belajar, memberikan motivasi serta memberikan bimbingan kepada peserta dalam melakukan pembelajaran, tetapi makin lama makin menurun intensitas perannya digantikan oleh peran yang sangat tinggi dari peserta didik untuk berpartisipasi dalam pembelajaran secara maksimal.
Langkah-langkah yang harus ditempuh pendidik dalam membantu peserta didik untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran :
1) Membantu peserta didik dalam menciptakan iklim belajar
2) Membantu peserta didik dalam menyusun kelompok belajar.
3) Membantu peserta didik dalam mendiagnosis kebutuhan pelajar.
4) Membantu peserta didik dalam menyusun tujuan belajar
5) Membantu peserta didik dalam merancang pengalaman belajar
6) Membantu peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
7) Membantu peserta didik dalam penilaian hasil, proses dan pengaruh kegiatan pembelajaran.

2. Model Pendekatan Pembelajaran
a. Konsep Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
Pendekatan pembelajaran kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar dilihat dari proses transfer belajar, lingkungan belajar.
Dilihat dari proses, belajar tidak hanya sekedar menghapal. Dari transfer belajar, siswa belajar dai mengalami sendiri, bukan pemberian dari orang lain. Dan dilihat dari lingkungan belajar, bahwa belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa.
Pembelajaran kontekstual (contextual learning) merupakan upaya pendidik untuk menghubungkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik, dan mendorong peserta didik melakukan hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dalam penerapan pembelajaran kontekstual tidak lepas dari landasan filosofisnya, yaitu aliran konstruktivisme. Aliran ini melihat pengalaman langsung peserta didik (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran.

b. Perbedaan Pembelajaran Kontekstual dan Pembelajaran Konvensional
Karakteristik model pembelajaran kontekstual dalam penerapannya di kelas, antara lain :
1) Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran
2) Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi
3) Pembelajaran dihubungkan dengan kehidupan nyata atau masalah
4) Perilaku dibangun atas kesadaran diri.
5) Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman
6) Peserta didik tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan.
7) Bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni peserta didik diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata.
Karakteristik model pembelajaran konvensional dalam penerapannya di kelas, antara lain :
1) Siswa adalah penerima informasi
2) Siswa cenderung belajar secara individual
3) Pembelajaran cenderung abstrak dan teori
4) Perilaku dibangun atas kebiasaan
5) Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
6) Peserta didik tidak melakukan yang jelek karena dia takut hukuman
7) Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural
Pembelajaran kontekstual memiliki perbedaan dengan pembelajaran konvensional, tekanan perbedaannya yaitu pembelajaran kontekstual lebih bersifat student centered (berpusat kepada peserta didik) dengan proses pembelajarannya berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan peserta didik bekajar dan mengalami. Sedangkan pembelajaran konvensional lebih cenderung teacher centered (berpusat kepada pendidik), yang dalam proses pembelajarannya siswa lebih banyak menerima informasi bersifat abstrak dan teoritis.

c. Komponen-komponen Pembelajaran Kontekstual
Peranan pendekatan pembelajaran kontekstual di kelas dapat didasarkan pada tujuh komponen, yaitu :
1) Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia didalam dirinya sedikit demi sedikit, yang hasilnya dapat diperluas melalui konteks yang terbatas.
2) Pencairan (inquiry)
Menemukan merupakan inti dari pembelajaran kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa merupakan hasil dari penemuan siswa itu sendiri.
3) Bertanya (Questioning)
Bertanya merupakan awal dari pengetahuan yang dimiliki seseorang. Bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiriy, yaitu untuk menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan pada aspek yang belum diketahui.
4) Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada komunikasi dua arah atau lebih, yaitu antara siswa dengan siswa atau antara siswa dengan pendidik apabila diperlukan atau komunikasi antara kelompok.
5) Pemodelan (Modeling)
Model dapat dirancang dengan melibatkan guru, siswa atau didatangkan dari luar sesuai dengan kebutuhan. Dengan pemodelan, siswa dapat mengamati berbagai tindakan yang dilakukan oleh model tersebut.
6) Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berfikir tentang sesuatu yang sudah dipelajari. Realisasi dari refleksi dalam pembelajaran dapat berupa:
a. Pernyataan langsung tentang sesuatu yang sudah diperoleh siswa
b. Kesan dan pesan/saran siswa tentang pembelajaran yang sudah diterimanya
c. Hasil karya
• Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
Assessment merupakan proses pengumpulan data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Assessment menekankan pada proses pembelajaran maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan pada saat melakukan proses pembelajaran.
Karakteristik authentic assessment, yaitu :
a. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran
Berlangsung
b. Dapat digunakan untuk formatif maupun sumatif
c. Yang diukur adalah keterampilan dan penampilan bukan mengingat fakta
d. Berkesinambungan
e. Terintegrasi
f. Dapat digunakan sebagai feed back

3. Model Pembelajaran Mandiri

a. Konsep Pembelajaran Mandiri
Dalam rangka menuju kedewasaan, seorang anak harus dilatih untuk belajar mandiri. Belajar mandiri merupakan suatu proses, dimana individu mengalami inisiatif dengan atau tanpa bantuan orang lain.
1) Dapat mengurangi ketergantungan pada orang lain
2) Dapat menumbuhkan proses alamiah perkembangan jiwa
3) Dapat menumbuhkan tanggung jawab pada peserta didik
Berdasarkan hal tersebut pendidik bukan sebagai pihak yang menentukan segala-galanya dalam pembelajaran, tetapi lebih berperan sebagai fasilitator atau sebagai teman peserta didik dalam memenuhi kebutuhan belajar mereka.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Belajar Mandiri
Banyak faktor yang mempengaruhi untuk tumbuhnya belajar mandiri, yaitu :
1) Terbuka terhadap setiap kesempatan belajar, belajar pada dasarnya tidak dibatas oleh waktu, tempat dan usia
2) Memiliki konsep diri sebagai warga belajar yang efektif, seseorang yang memiliki konsep diri berarti senantiasa mempersepsi secara positif mengenai belajar dan selalu mengupayakan hasil belajar yang baik
3) Berinisiatif dan merasa bebas dalam belajar, inisiatif merupakan dorongan yang muncul dari diri seseorang tanpa dipengaruhi oleh orang lain, seseorang yang memiliki inisiatif untuk belajar tidak perlu dirangsang untuk belajar.
4) Memiliki kecintaan terhadap belajar, menjadikan belajar sebagai bagian dari kehidupan manusia dimulai dari timbulnya kesadaran, keakraban dan kecintaan terhadap belajar.
5) Kreativitas. Menurut Supardi (1994), kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun kerja nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
Ciri perilaku kreatif yang dimiliki seseorang diantaranya dinamis, berani, banyak akal, kerja keras dan bebas. Bagi seseorang yang kreatif, tidak akan kuatir atau takut melakukan sesuatu sepanjang yang dilakukannya mengandung makna.
6) Memiliki orientasi ke masa depan. Seseorang yang memiliki orientasi ke masa depan akan memandang bahwa masa depan bukan suatu yang mengandung ketidakpastian.
7) Kemampuan menggunakan keterampilan belajar yang mendasar dan memecahkan masalah.

c. Peran Pendidik Dalam Belajar Mandiri
Dalam pembelajaran mandiri, tutor berperan sebagai fasilitator dan teman bagi peserta didik. Sebagai fasilitator, pendidik dapat membantu peserta didik dalam mengakrabi masalah yang dihadapi peserta didik, dan berupaya agar peserta didik dapat menemukan alternatif pemecahan masalah yang dihadapinya.
Peran lain yang harus dilakukan pendidik adalah sebagai teman. Pendidik berusaha menempatkan dirinya sama dengan peserta didik sebagai peserta yang mengharapkan nilai tambah dalam kehidupannya untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi, serta mengaktualisasikan dirinya.

B. KELOMPOK MODEL INTERAKSI SOSIAL
Model interaksi sosial adalah suatu odel pembelajaran yang beranjak dari pandangan bahwa segala hal sesuatu tidak terlepas dari realitas kehidupan, individu tidak mungkin melepaskan dirinya dari interaksi dengan orang lain. Karena itu proses pembelajaran harus dapat menjadi wahana untuk mempersiapkan siswa agar dapat berinteraksi secara luas dengan masyarakat.kelompok model-model sosial ini dirancang dengan memanfaatkan kerjasama antara siswa melalui berbagai bentuk kegiatan nyata aktivitas pembelajaran baik yang dilaksanakan di dalam kelas maupun di luar kelas. Kelompok model interaksi sosial ini meliputi sejumlah model yaitu:
1. Investigasi kelompok
Investigasi kelompok merupakan wahana untuk mendorong dan membimbing keterlibatan siswa di dalam proses pembelajaran. Sebagaimana diketahui bahwa keterlibatan siswa di dalam proses pembelajaran merupakan hal yang sangat esensial, karena siswa adalah sentral dari keseluruhan kegiatan pembelajaran.
Dalam pandangan Tsoi, Goh dan Chia (2001), model investigasi kelompok secara filosofis beranjak dari paradigma konstruktivis, dimana terdapat suatu situasi yang didalamnya siswa-siswa berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan berbagai informasi dan melakukan pekerjaan sevara kolaboratif untuk menginvestigasi suatu masalah, merencanakan, mempresentasikan serta mengevaluasikegiatan mereka. Karena itu model ini sangat sesuai untuk merespon kebutuhan-kebutuhan siswa akan pentingnya pengembangan kemampuan collaborative learning melalui kerja kelompok beranjak dari pengalaman masing-masing siswa guna mewujudkan interaksi sosial yang lebih baik.
2. Bermain Peran
Model ini dirancang khususnya untuk membantu siswa mempelajari nilai-nilai sosial dan moral dan pencerminannya dalam perilaku. Di samping itu model ini digunakan pula untuk membantu para siswa mengumpulkan dan mengorganisasikan isu-isu moral dan sosial, mengembangkan empati terhadap orang lain, dan berupaya memperbaiki keterampilan sosial. Sebagai model mengajar, model ini mencoba membantu individu untuk menemukan makna pribadi dalam dunia sosial dan berupaya memecahkan dilema-dilema sosial dengan bantuan kelompok.
Jika ditelaah dari esensinya, model bermain peran lebih menitikberatkan keterlibatan partisipan dan pengamat dalam situasi atau masalah nyata serta berusaha mengatasinya. Shaftel, dalam sebuah buku yang berjudul “Role Playing for Social Studies”, yang dibahas kembali oleh Sumantri dan Permana (1998/1999) menyarankan 9 langkah penerapan Role Playing di dalam penerapannya yaitu:
a. Membangkitkan semangat kelompok, memperkenalkan siswa dengan masalah sehingga mereka mengenalnya sebagai suatu bidang yang harus dipelajari
b. Pemilihan peserta, dimana guru dan siswa menggambarkan berbagai karakter/bagaimana rupanya, bagaimana rasanya, dan apa yang mungkin mereka kumukakan.
c. Menentukan arena panggung
d. Mempersiapkan pengama
e. Pelaksanaan kegiatan
f. Berdiskusi dan mengevaluasi
g. Melakukan lagi permainan peran
h. Berdiskusi dan evaluasi lagi
i. Berbagi pengalaman dan generalisasi

3. Model Penelitian Yurisprudensi
Pada dasarnya metode ini merupakan metode studi kasus dalam proses peradilan dan selanjutnya diterapkan dalam suasana belajar disekolah. Dalam model ini para siswa sengaja dilibatkan dalam masalah-masalah sosial yang menuntut pembuatan kebijakan pemerintah yang diperlukan serta berbagai pilihan untuk mengatasi isu tersebut, misalnya tentang konflik moral. Model ini bertujuan membantu siswa belajar berfikir secara sistematis tentang isu-isu muahir. Para siswa dituntut merumuskan isu-isu tersebut dan menganalisis pemikiran-pemikiran alternatif. Model ini potensial untuk digunakan dalam bidang studi yang membahas isu-isu kebijaksanaan umum, termasuk konflik moral dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a comment »

Teori-teori belajar

1. TEORI DISIPLIN MENTAL
Dari sebelum abad ke-20 telah berkembang beberapa teori belajar diantaranya teori disiplin mental. Hingga sekarang teori tersebut masih dapat dirasakan di beberapa sekolah. Teori disiplin mental menganggap bahwa dalam belajar anak harus didisiplinkan dan dilatih. Ketika ada seorang pendidik ingin mengajar anak membaca, maka mula-mula pendidik memberikan daftar kata yang diinginkannya dengan menggunakan kartu dimana tertulis setiap kata itu, kemudian pendidik melatih anak-anak mereka, dan setiap hari diberi tes, dan siswa yang belum pandai harus kembali sesudah jam sekolah untuk dilatih lagi, menurutnya, kalau anak dilatih banyak mengulang-ngulang menghafal sesuatu, maka ia akan ingat terus mengani hal itu.
2. TEORI BEHAVIORISME
Rumpun teori ini disebut Behaviorisme karena sangat menekankan perilaku atau tinggkah laku yang dapat diamati. Tokohnya E.L Thorndike, Ivan Patrovich Pavlov, B.F Skinner, Clark C. Hull. Temuan penelitian para ahli ini dalam prinsipnya mempunyai kesamaan, yaitu bahwa perubahan tingkah laku terjadi karena semata-mata oleh lingkungan. Teori-teori dalam rumpun ini bersifat molecular, karena memandang kehidupan individu terdiri atas unsure-unsur seperti halnya molekul-molekul. Menurut teori ini tingkah laku manusia tidak lain dari suatu hubungan antara perangsang jawaban atau Stimulus Respons. Belajar adalah pembentukan hubungan Stimulus Respons sebanyak-banyaknya. Pembentukan hubungan Stimulus Respons dilakukan melalui ulangan-ulangan. Adapun ciri-ciri aliran Behaviorisme ini adalah :
a) Memerintahkan pengaruh lingkungannya
b) Mementingkan bagian-bagian daripada keseluruhannya
c) Mementingkan reaksi atau psikomotor
d) Mementingkan sebab-sebab masa lampau
e) Mengutamakan mekanisme terjadinya hasil belajar
f) Mementingkan pembentukan kebiasaan
g) Mengutamakan “trial and error”

Ada beberapa teori belajar yang termasuk pada rumpun Behavionisme ini antara lain :
a) Teori Koneksionisme
Koneksionisme merupakan teori yang paling awal dari rumpun Berhaviorisme. Teori belajar koneksionisme dikembangkan oleh Edward L. Trhorndike (1874-1949). Menurut thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indra. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atua gerakan/tindakan.
Selanjutnya dalam teori koneksionisme ini Thorndike mengemukakan hukum-hukum belajar sebagai berikut :
1) Hukum kesiapan ( Low Of Readiness )
Hukum readiness mengatakan individu yang siap untuk merespon serta merespon akan menghasilkan respon yang memuaskan.
2) Hukum latihan ( Low Of Exercise )
Hukum efek mengatakan bahwa reaksi-reaksi yang membawa kepuasan akan lebih mudah dihubungkan dengan suatu situasi. Sebaliknya, reaksi-reaksi yang tidak membawa kepuasan akan tidak mempunyai hubungan yang kuat dengan situasinya.
3) Hukum akibat ( Low Of Effect )
Hukum latihan menyatakan bahwa perulangan kegiatan menguatkan hubungannya antara reaksi dengan situasinya oleh Thorndike, situasi rangsang lingkungan yang aktuil.
b) Teori Pengkondisian ( conditioning )
Teori pengkondisian merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori Koneksionisme. Tokoh teori ini adalah Ivan Pavlov, Watson, dan Gutrie. Ia adalah ahli Psikologi Refleksiologi dari Rusia. Sebagaiman dijelaskan oleh Hendry C Ellis, bahwa dalam prosedur penelitiannya Pavlov menggunakan laboratorium binatang sebagai tempat penelitian. Sama halnya dengan Thorndike, dia juga percaya bahwa belajar pada hewan memiliki prinsip yang sama dengan manusia. Belajar atau pembentukan perilaku perlu dibantu dengan kondisi tertentu. Belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu perilaku atau respons terhadap sesuatu.
1) Teori Conditioning dari Pavlov
Dalam teori ini Pavlov mengadakan percobaan dengan menggunakan obyek yaitu anjing. Secara singkat adalah sebagai berikut: Seekor anjing yang telah dibedah sedemikian rupa, sehingga saluran kelenjar ludahnya tersembul melalui pipinya, dimasukan kedalam kamar gelap. Dikamar itu hanya ada sebuah lubang yang terletak di depan moncongnya, tempat menyodorkan makanan atau menyorotkan cahaya pada waktu diadakan percobaan. Pada moncongnya yang telah dibedah itu disambungkan sebuah pipa yang dihubungkan dengan sebuah tabung diluar kamar. Dengan demikian dapat diketahui keluar tidaknya air liur dari moncong anjing itu pada waktu diadakan percobaan, alat-alat yang digunakan dalam percobaan itu antara lain makanan, lampu senter, dan sebuah bunyi-bunyian.
Dari hasil percobaan yang dilakukan dengan anjing itu Pavlov mendapat kesimpulan bahwa gerakan-gerakan reflek itu dapat dipelajari, dapat berubah karena mendapat latihan latihan, sehingga dari hasil ini ia membedakan 2 macam refleks, yaitu refleks bawaan dan refleks hasil belajar. Sebenarnya hasil-hasil percobaan Pavlov dalam hubungannya dengan belajar yang kita perlukan sekarang ini adalah tidak begitu penting. Mungkin beberapa hal yang ada sangkut pautnya dengan belajar yang perlu diperhatikan antara lain ialah bahwa dalam belajar perlu adanya latihan-latihan dan kebiasaan-kebiasaan yang telah melekat pada diri dapat mempengaruhi dan bahkan mengganggu proses belajar yang bersifat skill.
2) Teori Conditioning Watson
Watson mengadakan percobaan dengan menggunakan seekor tikus dan kelinci. Dari hasil percobaannya, ia menarik kesimpulan bahwa perasaan takut pada dapat diubah atau dilatih. Anak percobaan Watson mula-mula tidak takut pada kelinci dilatih sehingga takut pada kelinci. Kemudian anak itu dilatih lagi sehingga menjadi tidak takt lagi pada kelinci. Demikian maka menurut teori conditining, belajar itu adalah sebuah proses perubahan yang terjadi karena syarat-syarat yang kemudian menimbulkan reaksi.
Untuk menjadikan seseorang itu belajar, haruslah kita memberikan syarat-syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori kondisioning ialah adanya latihan-latihan yang kontinyu. Yang diutamakan dalam teori ini adalah hal belajar yang terjadi secara otomatis. Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil dari kondisioning, yaitu hasil daripada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap perangsang perangsang tertentu yang dialaminya dalam kehidupannya. Kelemahan daripada teori ini adalah teori ini menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan pencetaan pribadi dalam diri tidak dihiraukannya.
Peranan latihan atau kebiasaan terlalu ditonjolkan. Sedangkan kita tahu bahwa dalam bertindak dan berbuat sesuatu manusia tidak semata-mata tergantung pengaruh dari luar atau pribadinya sendiri memegang peranan dalam memilih dan menentukan perbuatan dab reaksi apa yang akan dilakukan.
3) Teori Conditioning Gutrie
Gutrie mengatakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai serangkaian tingkah laku yang terdiri dari unit-unit. Didalam rangkaian tersebut unit-unit tingkah laku itu merupakan reaksi terhadap perangsang sebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi stimulus pula yang kemudian reaksi/respon bagi unit tingkah laku berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga serangkaian unit-unit tingkah laku yang berikutnya. Jika dalam proses asosiasi antara unit-unit tingkah laku satu sama lain saling berurutan. Ulangan atau latihan yang berkali-kali memperkuat asosiasi yang tercepat antara unit tingkah laku yang satu dengan unti tingkah laku berikutnya.
Berikut ini adalah contoh sebagai penjelasan seorang ibu datang menanyakan kepada Gutrie, bahwa anak perempuannya setiap pulang dari sekolah selalu melemparkan tas dan pakaiannya ke sudut kamarnya. Kemudian ganti pakaian dan terusmakan tanpa meletakkan tas dan pakaiannya pada gantungan yang telah disediakan untyk itu. Teguran-teguran ibu untuk menggantungkan tas dan pakaiannya pada tempatnya hanya berlaku satu atau dua hari saja, sesudah itu kebiasaan yang buruk berulang lagi. Gutrie menyarankan (sesuai dengan teori conditioning) perbaikan seperti berikut: teguran itu jangan hanya menyuruh menggantungkan tas dan pakaiannya sesudah anak selesai makan, tetapi anak tersebut harus disuruh memakai pakaian itu lagi dan menyandang tasnya keluar rumah, kemudian begitu masuk rumah anak tersebut langsung disuruh menggantungkan tas dan pakaiannya, berganti pakaian, dan selanjutnya makan. Jadi proses berlangsungnya unit-unit tingkah laku itu harus diulang dari mula.

Metode-metode Gutrie
Beberapa metode yang dipergunakan Gutrie dalam mengubah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan pada hewan maupun pada manusia adalah:
a. Metode Reaksi Berlawanan (incompatible respose method)
Manusia itu adalah suatu organisme yang selalu mereaksi terhadap perangsang-perangsang tertentu. Jika suatu reaksi terhadap perangsang-perangsang telah menjadi suatu kebiasaan, maka cara untuk mengubahnya ialah dengan jalan menghubungi perangsang (stimulus) dengan reaksi (response) yang berlawanan dengan reaksi buruk yang hendak dihilangkan. Sebagai contoh, umpamanya seorang anak takut kepada kelinci. Waktu anak itu sedang memngalami takutnya kepada kelinci, berilah anak itu makanan yang disukainya supaya merasa senang.lakukanlah hal ini berkali-kali sehingga anak itu tidak takut lagi kepada kelinci.
b. Metode Membosankan (Exhaustion Method)
Hubungan atau asosiasi perangsang dan reaksi (S-R) pada tingkah laku yang buruk itu dibiarkan saja sampai lama mengalami perbuatan semacam itu, sehingga menjadi bosan. Sebagai contoh, umpamakan seorang anak yang berumur tiga tahun bermain-main dengan korek api. Pada waktu itu juga disuruh menghabiskan pentol-korek api satu pak sehingga menjadi bosan. Dan sesudah itu ia tak mau lagi bermain api.
c. Metode Mengubah Lingkungan (Change of Environment Method)
Ialah suatu metode yang dilakukan dengan jalan memutuskan atau memindahkan hubungan antara S dan R yang buruk yang akan dihilangkan. Atau dengan kata lain, menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang disebabkan oleh suatu perangsang (S) dengan merubah perangsang itu sendiri, misalnya: mengubah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakukan seorang anak itu kesekolah lain.
c) Teori Penguatan ( Reinforcement )
Kalau teori pengkondisian yang diberi kondisi adalah perangsangannya, maka pada teori penguatan yang dikondisi atau diperkuat adalah responsnya.
d) Teori Operant Conditioning
Tokoh utamanya adalah Skinner. Skinner memandang bahwa teori Pavlov tentang reflek berhasrat hanya tempat untuk menyatakan tingkah laku respon . tingkah laku respon yang terjadi dari suatu rangsangan. Skinner mendapatkan tingkah laku yang spesifik ditunjukan pada perangsan lingkungan yang diistilahkanya ‘’operan behavior’’. Oleh sebab itu teorinya disebut ‘’operant behavior conditioning .’’ percobaanya ‘’operant conditioning’’ atau instrumental conditioning’’
Percobaan dengan kotak yang ada pengungkitnya yang dapat tertekan dan mengeluarkan sedikit makanan /minuman yang jatuh atau tumpah pada ruang penyelidikan. Beberapa konsep yang berhubungan dengan operant conditioning:
1) Positive and negative reinforment. Baik reinforcer positif maupun reinforcer negatif keduanya dihubungkan dengan ditambahkan pertambahan tingkah laku yang sedang diperkuat. Yang dimaksud reinforce positif ialah penguatan yang menimbulkan kemungkinan untuk bertambah tingkah laku. Sedangkan negatif reinforce menunjuk berakhir suatu kejadian.
2) Shaping. Konsep yang menunjukan kepada proses tingkah laku suatu organisme yang makin lama makin dekat dengan tingkah laku yang diharapkan oleh pencoba.
3) Succestive approximation. Konsep yag menggambarkan teknik pembentukan tingkah laku. Dengan cara mengunakan reinforcement pada waktu yang tepat, pencoba akan dapat merubah respons yang sedang ia kondisikan.
4) Extinction. Konsep yang mengatakan bahwa jika reinforcement tidak ada maka terjadi pengurangan tingkah laku dan extinction akan terjadi terus menerus jika tidak ada reinforcement.
5) Chaining. Merangkaikan hubungan stimulus/response dimana suatu response akan menghasilkan berikutnya.
6) Schedule of reinforcement
a) fixed ratio schedule. Ratio disini menunjukan jumlah response, Fised ratio reinforcement bearti penetapan response yang dikehendaki dalam percobaan untuk memberikan hadiah.

b) Variable ratio schedule. Binatang coba diberikan hadiah pada jumlah response yang bervariasi , misalnya setiap tiga,lima, tujuh kali response atau berurutan variasi lain, schedule ini didasarkan atas usaha maksimal dari binatang coba.
c) Fixed interval schedule. Binatang diberi hadiah dalam jarak waktu tertentu , misalnya setiap lima detik , sepanjang hal itu untuk meresponse
d) Variable interval schedule. Binatang coba diberi hadiah pada variasi waktu, misalnya pada detik ke tiga, ke lima, ke lima, dan semacamnya. Salah atu keuntunganya dari continius schedule ialah pengondisian respon lebih cepat terjadi

Kerugianya metode Schedule of reinforcement ialah Jika reincoment dihentikan , maka extinction akan cepat terjadi. Sedangkan keuntungan dari variable schedule walaupun proses conditioning berjalan lama respon telah terkondisikan akan tahan lama untuk extinction.

e) Purposive Behavorisme Dari Tolman
Tolman telah mengembangkan teori yang dapat dipandang sebagai rantai penghubung antara aliran behaviorism dan teori gestalt dan mengawinkan keuntungan dari keduanya. Tolman menolak konsep reinforcement dalam hubunganya proses belajar. Dalam membedakan antara belajar dengan tingkah laku , ia berpendirian bahwa belajar terdiri berpasangan stimulus atau berasosiasi stimulus .
Tolman mengunakan istilah significant (nama dengan reconditioned stimulus pada Thorndike) dan sign (conditioned stimulus thorndike) yang dipakai menjelaskan peristiwa stimulus suatu response yang significant jika dihubungkan dengan sign maka aka nada ikatan dengan sign. Kemudian sign akan mjemimpin hewan coba mengharapkan timbul response yang significant ( misalnya makanan pada percobaan Pavlov). Tingkah laku kegiatan yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu . binatang coba mengikuti sign dengan harapan dapat memperoleh suatu tujuan.
Bagi Tolman, belajar dapat terjadi dari setiap performance yang berbareng . inilah yang disebut ‘’latent learning”. Menurut Tolman, motivasi itu mempengaruhi belajar.
f) Teori belajar menurut Clark C. Hull
Dalam teorinya ia mengatakan bahwa suatu kebutuhan harus ada pada diri seseorang yang sedang belajar, kebutuhan itu dapat berupa motif, maksud, ambisi, atau aspirasi. Dalam hal ini efisiensi belajar tergantung pada besarnya tingkat pengurangan dan kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar individu.
Prinsip penguat (reinforcer) menggunakan seluruh situasi yang memotivasi, mulai dari dorongan biologis yang merupakan kebutuhan utama seseorang sampai pada hasil-hasil yang memberikan ganjaran bagi seseorang. Jadi pada diri seseorang harus ada motif sebelum belajar terjadi atau dilakukan.
g) Modern Social Learning Theory Dari Bandura
Bandura dkk telah mengembangkan teori Social Learning yang didasarkan pada prinsip imitation and modeling. Bandura memperkenalkan No Trial Learning-Learning by Observation. Proses belajar dalam Social Learning terjadi sebagai berikut: seorang anak mengamati model melakukan beberapa kegiatan, jika anak itu diberi kesempatan untuk melakukan beberapa kegiatan dan hal yang sama, pasti anak akan bertingkah laku dengan cara yang sama (proses imitasi = peniruan).
Hasil studi Bandura dalam hal ini sebagai berikut: ada 2 kelompok anak. Kelompok pertama diberi kesempatan melihat perilaku model, yaitu sekelompok orang dewasa yang beramai-ramai menyerbu boneka yang baru. Kelompok kedua tidak diberi kesempatan melihat perilaku model. Setelah kedua kelompok dimasukkan ke dalam ruangan yang berisi boneka, maka kelompok pertama secara beramai-ramai menyerbu boneka lucu, sementara kelompok kedua tidak. Reinforcement model nampaknya mendorong kea rah tingkah laku yang lebih tinggi, namun cara ini tidak mendorong untuk belajar baru. Jelas kiranya bahwa baik karakteristik penonton dan model sangat mempengaruhi derajat imitation sebagai hasil dalam social learning.

3. TEORI KOGNITIF
Teori kognitif dikembangkan oleh para ahli psikologi Kognitif. Tokohnya Kohler, Max Wertheimes, Kurt Lewin, dasar teori belajar tokoh ini sama. Yaitu dalam belajar terdapat kemampuan mengenal lingkungan, sehingga lingkungan tidak otomatis mempengaruhi manusia teori ini berbeda dengan Behaviorisme, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalh mengetahui dan bukan respons. Teori ini menekankan pada peristiwa mental, bukan hubungan Stimulus-respons.
Teori Gestalt, berkembang dijerman dengan pendirinya yang utama adalah Max Werthaimer, menurut Gestalt belajar siswa harus memahami makna hunungan anatar satu bagian dengan bagian lainnya. Belajar adalah mencari dan mendapatkan prognanz, menemukan keteraturan, keharmonisan dari sesuatu. Teori medan atau Field, menurut teori ini individu selalu berada dalam suatu medan atau ruang hidup. Dalam medan hidup ini ada suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi untuk mencapainya selalu ada hambatan. Jadi perbedaan pandangan antara pendekatan Behavioristik dengan Kognitif adalah sebagai berikut :
a. Proses atau peristiwa belajar seseorang, bukan semata-mata antara ikatan Stimulus, Respons, melainkan juga melibatkan proses kognitif
b. Dalam peristiwa belajar tertentu yang sangat terbatas ruang lingkupnya misalnya belajar meniru sopan santun dimeja makan dan bertegur sapa. Peranan ranah cipta siswa tidak begitu menonjol, meskipun sesungguhnya keputusan untuk meniru atau tidak ada pada diri orang itu sendiri. Ciri-ciri aliran ini adalah :
a) Mementingkan apa yang ada dalam diri manusia
b) Mementingkan keseluruhan dari pada bagian-bagian
c) Mementingkn peranan kognitif
d) Mementingkan kondisi waktu sekarang
e) Mementingkan pembentukan struktur kognitif
f) Mengutamakan “in right” (pengertian)
Tokoh-tokoh Teori Belajar Psikologi Kognitif
a) Mex Wertheirmer (1880 – 1943)
Ia adalah peletak dasar psikologi Gestalt, yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Suatu konsep terpenting dalam Psikologi Gestalt adalah tentang “insight” yaitu pengamatan/pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian di dalam sutu situasi permasalahan. Contoh insight seperti pernyataan spontan “aha” atau “ooh” atau I see now. Wertherimer menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian, bukan hafalan akademis. Menurut pendapat Gestaltis, semua kegiatan belajar menggunakan insight atau pemahaman terhadap hubungan-hubungan, terutama hubungan-hubungan antara bagian keseluruhan. Tingkat kejelasan atau keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan belajar seseorang daripada dengan hukuman dan ganjaran.
b) Kohler
Wolfgang kohler memperkenalkan penelitiannya yang berkaitan dengan insight learning. Teori yang menekankan akan pemahaman atas suatu proses pembelajaran. Teori ini juga mengutamakan pengertian dalam proses belajar mengajar, jadi bukan ulangan seperti halnya teori terdahulu. Dengan demikian menurut teori ini belajar merupakan perubahan kognitif (pemahaman). Belajar bukan hanya ulangan tetapi perubahan struktur pengertian. Dengan demikian teori belajar ini berhaluan pada pandangan belajar konstruktivistik. Dalam teori insight in learning terdapat trial dan error, tetapi tidak seperti tafsiran Thorndike (belajar ngabur). Dalam semua belajar didahului trial dan error. Trial dan error mempunyai peranan dalam timbulnya insight. Pada teori Thorndike tidak ada tujuan, otomatis, tanpa konsep, sedang pada Insight in learning ada tujuan dengan konsep. Insight learning dapat digunakan dalam situasi yang serupa.
EKSPERIMEN KOHLER
Untuk mendukung teorinya, Wolfgang Kohler melakukan eksperimen pada Simpanse. Eksperimen tersebut dilakukan di Pulau Canary tahun 1913 – 1920. Berikut ini adalah eksperimen yang dilakukannya:
Eksperimen I
Wolfgang Kohler membuat sebuah sangkar yang didalamnya telah disediakan sebuah tongkat. Simpanse kemudian dimasukkan dalam sangkar tersebut, dan di atas sangkar diberi buah pisang. Melihat buah pisang yang tergelantung tersebut, Simpanse berusaha untuk mengambilnya namun selalu mengalami kegagalan. Dengan demikian Simpanse mengalami sebuah problem yaitu bagaimana bisa mendapatkan buah pisang agar dapat dimakan. Karena didekatnya ada sebuah tongkat maka timbullah pengertian bahwa untuk meraih sebuah pisang harus menggunakan tongkat tersebut.
Eksperimen II
Pada eksperimen yang kedua masalah yang dihadapi oleh Simpanse masih sama yaitu bagaimana cara mengambil buah pisang. Namun di dalam sangkar tersebut diberi dua tongkat. Simpanse mengambil pisang dengan satu tongkat, namun selalu mengalami kegagalan karena buah pisang diletakkan semakin jauh di atas sangkar. Tiba-tiba muncul insight (pemahaman) dalam diri Simpanse untuk menyambung kedua tongkat tersebut. Dengan kedua tongkat yang disambung itu, Simpanse menggunakannya untuk mengambil buah pisang yang berada di luar sangkar. Ternyata usaha yang dilakukan oleh Simpanse ini berhasil.
Eksperimen III
Dalam eksperimen yang ketiga Wolfgang Kohler masih menggunakan sangkar, Simpanse, dan buah pisang. Namun dalam eksperimen ini di dalam sangkar diberi sebuah kotak yang kuat untuk bisa dinaiki oleh Simpanse. Pada awalnya Simpanse berusaha meraih pisang yang digantung di atas sangkar, tetapi ia selalu gagal. Kemudian Simpanse melihat sebuah kotak yang ada di dalam sangkar tersebut, maka timbullah insight (pemahaman) dalam diri Simpanse yakni mengambil kotak tersebut untuk ditaruh tepat dibwah pisang. Selanjutnya, Simpanse menaiki kotak dan akhirnya ia dapat meraih pisang tersebut.
Eksperimen IV
Eeksperimen yang keempat masih sama dengan eksperimen yang ketiga, yaitu buah pisang yang diletakkan di atas sangkar dengan cara agak ditinggikan, sementara di dalam sangkar diberi dua buah kotak. Semula Simpanse hanya menggunakan kotak satu untuk meraih pisang, tetapi gagal. Simpanse melihat ada satu kotak lagi di dalam sangkar dan ia menghubungkan kotak tersebut dengan pisang dan kotak yang satunya lagi. Dengan pemahaman tersebut, Simpanse menyusun kotak-kotak itu dan ia berdiri di atas susunan kotak-kotak dan akhirnya dapat meraih pisang di atas sangkar dengan tangannya.
Rumusan Teori Kohler
Dari eksperimen-eksperimen tersebut, Kohler menjelaskan bahwa Simpanse yang dipakai untuk percobaan harus dapat membentuk persepsi tentang situasi total dan saling menghubungkan antara semua hal yang relevan dengan problem yang dihadapinya sebelum muncul insight. Dari percobaan-percobaan tersebut menunjukkan Simpanse dapat memecahkan problemnya dengan insightnya, dan ia akan mentransfer insight tersebut untuk memecahkan problem lain yang dihadapinya. (Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, 2008). Insight adalah didapatkannya pemecahan problem, dimengertinya persoalan; inilah inti belajar. Jadi yang penting bukanlah mengulang-ulang hal yang harus dipelajari, tetapi mengertinya, mendapatkan insight. Proses belajar yang menggunakan insight (insightfull learning) mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Insight tergantung kepada keampuan dasar. Kemampuan dasar yang dimiliki individu masing-masing berbeda-beda satu dengan yang lain. Biasanya perbedaan tersebut terletak pada usia, pada usia yang masih sangat muda lebih sukar belajar dengan insight.
2) Insight tergantung kepada pengalaman masa lampau yang relevan. Walaupun insight itu tergantung pada pengalaman masa lampau yang relevan, namun belum merupakan jaminan bahwa memiliki pengalaman masa lampau tersebut dapat memecahkan problem.
3) Insight tergantung kepada pengaturan secara eksperimental. Insight itu hanya mungkin terjadi apabila situasi belajar itu diatur sedemikian rupa sehingga segala aspek yang dibutuhkan dapat diobservasi.
4) Insight didahului dengan periode mencari dan mencoba-coba. Sebelum dapat memperoleh insight orang harus sudah meninjau problemnya dari berbagai arah dan mencoba-coba memecahkannya.
5) Belajar dengan menggunakan insight itu dapat diulangi. Jika suatu problem yang telah dipecahkan dengan insight lain kali diberikan kepada peserta didik yang bersangkutan, maka dia akan langsung dapat memecahkan problem itu lagi.
6) Insight yang telah terbentuk (sudah didapatkan) dapat dipergunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang baru.
c) Jerome S Bruner
Bruner menyatakan bahwa inti belajar adalah bagaimana orang memilih, mempertahankan, dan mentransformasikan informasi secara aktif. Menurut Bruner selama kegiatan belajar berlangsung hendakanya siswa dibiarkan untuk menemukan sendiri (discovery learning) makna segala sesuatu yang dipelajari. Dalam hal ini siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berperan dalam memecahkan masalah. Dengan cara tersebut diharapkan mereka mampu memahami konsep-konsep dalam bahasa mereka sendiri.
d) David Ausubel
Ia mengemukakan teori belajar yaitu teori belajar bermakna. Belajar dapat diklasifikasikan dalam dua dimensi, yaitu Dimensi yang berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan dan dimensi yang menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengabaikan informasi pada struktur kognitif yang ada. Struktur kognitif adalah fakta, konsep, dan generalisasinya yang telah dipelajari dan diingat siswa.
Dalam implementasinya, teori ini terdiri dari dua fase, aitu mula-mula ia menyangkut pemberian “the organizer” atau materi pendahuluan diberikan sebelum kegiatan berlangsung dan dalam tingkat abstraksi. Fase berikutnya dimana organisasinya lebih spesifik dan terarah.
e) Field Theory Dari Lewin
Field Theory (teori medan) muncul dari studi tentang fisika dan matematika, terutama sebagai cabang matematika yaitu topologi. Lewin tidak setuju jika dalam memahami tingkah laku melalui bagian-bagian kecil. Lewin berpendapat bahwa tingkah laku adalah fungsi pribadi dan lingkungannya yang dinyatakan dalam dalam rumus:
B = f (P – E), di mana:
B = Behavior P = Personality
f = function E = Environment
Teori ini menghubungkan individu dengan lingkungannya. Berarti makna psikologis yang dimiliki oleh seorang individu berada pada medan dimana makna itu diperolehnya.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pemaknaan sebagai satu keterpaduan pribadi dan lingkungan dalam teori medan, yaitu:
a. Life Space
Hal yang termasuk life space yaitu persepsi seseorang terhadap orang lain, pengaruh kebudayaan, benda fisik, konsep-konsep dan berbagai stimulus yang bersinggungan secara psikologis dengan individu.
b. Differentiation
Sebagai konsekuensi konsep life space, maka setiap individu berkembang dalam perbedaan dan keunikannya. Life space seseorang berkembang dari sesuatu yang secara relative tidak dikenal, dan baginya merupakan daerah yang tak terjelajahi yang kemudian menjadi dimengerti lebih baik dan terorganisir.
c. Motivation
Motivasi termasuk factor-faktor yang mengarahkan kekuatan, keberanian, penguatan, daya tarik terhadap obyek tujuan daerah life space.

4. TEORI HUMANISTIK
Menurut teori humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditunjukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Teori humanistic sangat mementingkan isi yang dipelajari daripada proses belajar itu sendiri. Berikut adalah tokoh-tokoh penganut aliran humanistik:
a) Arthur Combs (1912-1999)
Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Untuk itu guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain.
Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya. Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.
b) Abraham Maslow
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self).
Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut: Kebutuhan fisiologis/dasar, kebutuhan akan rasa aman dan tentram, kebutuhan untuk dicintai dan disayangi, kebutuhan untuk dihargai, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri
c) Carl Rogers
Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:
1) Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2) Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa
3) Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4) Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.
Dari bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah:
1) Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
2) Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
3) Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
4) Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
5) Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
6) Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
7) Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
8) Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
9) Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
10) Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan
5. TEORI BELAJAR SIBERNETIK
Teori belajar sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingkan teori-teori belajar lainnya. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan ilmu informasi. Menurut teori sibernetik, belajar adalah pemrosesan informasi. Teori ini lebih mementingkan sistem informasi dari pesan atau materi yang dipelajari. Bagaimana proses belajar akan berlangsung sangat ditentukan oleh sistem informasi dari pesan tersebut. Oleh sebab itu, teori sibernetik berasumsi bahwa tidak ada satu jenispun cara belajar yang ideal untuk segala situasi. Sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi.
Teori ini telah dikembangkan oleh para penganutnya, antara lain seperti pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Gage dan Berliner, Biehler dan Snowman, Baine, serta Tennyson.
Bahwa proses pengolahan informasi dalam ingatan dimulai dari proses penyandian informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan informasi (storage), dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan (retrieval). Ingatan terdiri dari struktur informasi yang terorganisasi dan proses penelusuran bergerak secara hirarkis, dan informasi yang paling umum dan inklusif ke informasi yang paling umum dan rinci, sampai informasi yang diinginkan diperoleh.
Konsepsi Landa dengan model pendekatannya yang disebut algoritmik dan heuristik mengatakan bahwa belajar algoritmik menuntut siswa untuk berpikir sistematis, tahap demi tahap, linear, menuju pada target tujuan tertentu, sedangkan belajar heuristik menuntut siswa untuk berpikir devergen, menyebar ke beberapa target tujuan sekaligus.
Pask dan Scott membagi siswa menjadi tipe menyeluruh atau wholist, dan tipe serial atau serialist. Mereke mengatakan bahwa siswa yang bertipe wholist cenderung mempelajari sesuatu dari yang paling umum menuju ke hal-hal yang lebih khusus, sedangkan siswa dengan tipe serialist dalam berpikir akan menggunakan cara setahap demi setahap atau linear.
6. TEORI BELAJAR REVOLUSI-SOSIOKULTURAL
Timbul keprihatinan terhadap perubahan kehidupan masyarakat dewasa ini dengan maraknya berbagai problem sosial seperti ancaman disintegrasi yang disebabkan oleh fanatisme dan primordialisme, dan di lain pihak adanya tuntutan pluralisme. Perubahan struktur dan lunturnya nilai-nilai kekeluargaan, serta merebaknya kejahatan yang disebabkan oleh lemahnya social capital (modal sosial) mendorong mereka yang bertanggung jawab dibidang pendidikan untuk mengkaji ulang paradigma pendidikan dan pembelajaran yang menjadi acuan selama ini. Tentu saja pendidikan bukan satu-satunya lembaga yang harus bertanggung jawab untuk mengatasi semua masalah tersebut. Namun pendidikan mempunyai kontribusi besar dalam upaya mengatasi berbagai persoalan sosial.
Aliran behavioristik yang banyak digunakan dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran selama ini kurang dapat menjawab masalah-masalah sosial. Pendekatan ini banyak dianut dalam praktek-praktek pendidikan dan pembelajaran mulai dari pendidikan tingkat yang paling dini hingga paling tinggi, namun ternyata tidak mampu menjawab masalah-masalah dan tuntutan kehidupan global. Hasil pendidikan tidak mampu menumbuhkembangkan anak-anak untuk lebih menghargai perbedaan dalam konteks sosial budaya yang beragam. Mereka kurang mampu berpikir kreatif, kritis dan produktif, tidak mampu mengambil keputusan, memecahkan masalah dan berkolaborasi, serta pengelolaan diri.
Pendekatan kognitif dalam belajar dan pembelajaran yang ditokohi oleh Piaget yang kemudian berkembang ke dalam aliran konstruktivistik juga masih dirasakan kelemahannya. Teori ini bila dicermati ada beberapa aspek yang dipandang dapat menimbulkan implikasi kontraproduktif dalam kegiatan pembelajaran, karena lebih mencerminkan ideologi individualisme dan gaya belajar sokratik yang lazim dikaitkan dengan budaya Barat. Pendekatan ini kurang sesuai dengan tuntutan revolusi-sosiokultural yang berkembang akhir-akhir ini.
Pandangan yang dianggap lebih mampu mengakomodasi tuntutan sociocultural-revolution adalah teori belajar yang dikembangkan oleh Vygotsky. Dikemukakan bahwa peningkatan fungsi-fungsi mental seseorang terutama berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya, dan bukan sekedar dari individu itu sendiri. Teori Vygotsky sebenarnya lebih tepat disebut sebagai pendekatan ko-konstruktivisme.
Konsep-konsep penting dalam teorinya yaitu genetic low of development, zona of proximal development, dan mediasi, mampu membuktikan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial-budaya dan sejarahnya. Perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang seturut dengan teori sociogenesis. Dimensi kesadaran sosial bersifat primer sedangkan dimensi individual bersifat sekunder.
Berdasarkan teori Vygotsky maka dalam kegiatan pembelajaran hendaknya anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proximalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang. Guru perlu menyediakan berbagai jenis dan tingkatan bantuan (helps/cognitive scaffolding) yang dapat memfasilitasi anak agar mereka dapat memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Bantuan dapat dalam bentuk contoh, pedoman, bimbingan orang lain atau teman yang lebih berkompeten. Bentuk-bentuk pembelajaran kooperatif-kolaboratif serta belajar kontekstual sangat tepat digunakan. Sedangkan anak yang mampu belajar sendiri perlu ditingkatkan tuntutannya, sehingga tidak perlu menunggu anak yang berada dibawahnya. Dengan demikian perlu pemahaman yang tepat tentang karakteristik siswa dan budayanya sebagai pijakan dalam pembelajaran.

B. IMPLEMENTASI TEORI BELAJAR
1. TEORI DISIPLIN MENTAL
Ketika ada seorang pendidik ingin mengajar anak membaca, maka mula-mula pendidik memberikan daftar kata yang diinginkannya dengan menggunakan kartu dimana tertulis setiap kata itu, kemudian pendidik melatih anak-anak mereka, dan setiap hari diberi tes, dan siswa yang belum pandai harus kembali sesudah jam sekolah untuk dilatih lagi, menurutnya, kalau anak dilatih banyak mengulang-ngulang menghafal sesuatu, maka ia akan ingat terus mengani hal itu.
2. TEORI BEHAVIORISME
Belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Perubahan perilaku dapat berwujud sesuatu yang konkret atau yang non konkret, berlangsung secara mekanik memerlukan penguatan. Aplikasi teori belajar behaviorisme dalam pembelajaran, tergantung dari beberapa hal seperti tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Teori ini menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materinya mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil. Berikut adalah beberapa contoh aplikasi teori belajar behaviorisme menurut tokoh-tokoh antara lain :
a. Aplikasi Teori Pavlov
Contohnya yaitu pada awal tatap muka antara guru dan murid dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru menunjukkan sikap yang ramah dan memberi pujian terhadap murid-muridnya, sehingga para murid merasa terkesan dengan sikap yang ditunjukkan gurunya.
b. Aplikasi Teori Thorndike
• Sebelum guru dalam kelas mulai mengajar, maka anak-anak disiapkan mentalnya terlebih dahulu. Misalnya anak disuruh duduk yang rapi, tenang dan sebagainya.
• Guru mengadakan ulangan yang teratur, bahkan dengan ulangan yang ketat atau sistem drill.
• Guru memberikan bimbingan, pemberian hadiah, pujian, bahkan bila perlu hukuman sehingga memberikan motivasi proses belajar mengajar.
c. Aplikasi Teori Skinner
Guru mengembalikan dan mendiskusikan pekerjaan siswa yang telah diperiksa dan dinilai sesegera mungkin.
3. APLIKASI TEORI HUMANISTIK
Belajar adalah menekankan pentingnya isi dari proses belajar bersifat eklektik, tujuannya adalah memanusiakan manusia atau mencapai aktualisasi diri. Aplikasi teori humanistik dalam pembelajaran guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Hal ini dapat diterapkan melalui kegiatan diskusi, membahas materi secara berkelompok sehingga siswa dapat mengemukakan pendapatny masing-masing di depan kelas. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila kurang mengerti terhadap materi yang diajarkan.Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
Guru yang baik menurut teori ini adalah : Guru yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar.Ruang kelads lebih terbuka dan mampu menyesuaikan pada perubahan. Sedangkan guru yang tidak efektif adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah ,mudah menjadi tidak sabar ,suka melukai perasaan siswa dengan komentsr ysng menyakitkan,bertindak agak otoriter, dan kurang peka terhadap perubahan yang ada.
4. TEORI KOGNITIF
Hakekat belajar menrut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perceptual, dan proses internal. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa. Berikut adalah beberapa prinsip yang harus dipenuhi dalam proses pembelajaran ketika menggunakan teori kognitif:
a. Siswa bukan sebagai orang dewasa yang mud adala proses berpikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melaui tahap-tahap tertentu.
b. Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena degan hany mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.
c. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengalaman atau informasi baru.
d. Adanya perbedaan individu pada diri siswa perlu diperhatikan.
e. Agar bermakna, informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa.
5. TEORI BELAJAR SIBERNETIK
Aplikasi teori pengolahan informasi dalam pembelajaran antara lain dirumuskan dalam teori Gagne dan Briggs yang mempreskripkan adanya (1) kapabilitas belajar, (2) peristiwa pembelajaran, dan (3) pengorganisasian/urutan pembelajaran.
6. TEORI BELAJAR REVOLUSI-SOSIOKULTURAL
Pada setiap perencanaan dan implementasi pembelajaran perhatian guru harus dipusatkan kepada kelompok anak yang tidak dapat memecahkan masalah belajar sendiri. Guru perlu mennyediakan berbagai jenis dan tingkat bantuan yang dapat memfasilitasi anak agar mereka dapat memecahkan masalah yang sedang dihadapinya. Bimbingan atau bantuan dari orang dewasa atau teman yang lebih kompeten sangat efektif untuk meningkatkan produktifitas belajar. Bantuan-bantuan tersebut tentunya harus sesuai dengan konteks sosio-kultural atau karakteristik anak.

Leave a comment »

Pendidikan Multikultural

1. Sejarah Pendidikan Multikultural:

a. Sebab: yaitu merujuk pada gerakan sosial orang amerika keturunan afrika dan kelompok kulit berwarna lain yang mengalami praktik diskriminasi pada lembaga-lembaga public pada masa perjuangan hak asasi tahun 1960

b. Akibat: meningkatkan kesadaran pada peserta didik agar selalu berperilaku humanis, pluralis, dan demokratis.

2. Jenis-jenis multikultural:

a. Multikulturalisme Isolasionis (Kelompok ini menerima
keragaman, tetapi pada saat yang sama berusaha mempertahankan budaya mereka secara terpisah dari masyarakat lain umumnya),

b. Multikulturalisme Akomodatif (kelompok ini merumuskan dan menerapkan undang-undang, hukum, dan ketentuan-ketentuan yang
sensitif secara kutural dan memberikan kebebasan kepada kaum minoritas untuk  mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan mereka; sebaliknya kaum minoritas tidak menantang kultur dominan),

c.Multikulturalisme Otonomis (Fokus pokok kelompok ini adalah untuk mempertahankan cara hidup mereka, yang memiliki hak yang sama dengan kelompok dominan; mereka menantang kelompok kultural dominan dan berusaha menciptakan suatu masyarakat dimana semua kelompok dapat eksis sebagai mitra yang sejajar),

d. Multikulturalisme kritikal atau interaktif  (masyarakat plural dimana
kelompok-kelompok kultural tidak terlalu fokus dengan kehidupan kultural otonom, tetapi lebih menuntut penciptaan kultur kolektif yang mencerminkan dan menegaskan perspektif mereka),

e. Multikulturalisme Kosmopolitan (dimana masyarakat plural berusaha menghapuskan batas-batas kultural sama sekali untuk menciptakan sebuah
masyarakat dimana setiap individu tidak lagi terkait pada budaya tertentu, dan
sebaliknya secara bebas terlibat dalam eksperimen-eksperimen interkultural dan sekaligus mengembangkan kehidupan kultural masing-masing,

f. Multikulturalisme Demokratis (menekankan kepercayaan pada normalitas keberagaman dan penerimaan atas keberagaman itu),

g.Multikultural Religius (menekankan tidak terpisahnya agama dari negara dan tidak mentolerir adanya faham, budaya, serta orang-orang yang atheis)

3. Hambatan dalam pendidikan multikultural: keragaman identitas budaya daerah, pergeseran kekuasaan dari pusat ke daerah, kurang kokohnya nasionalisme, fanatisme sempit, konflik kesatuan nasional dan multicultural, kesejahteraan ekonomi yang tidak merata di antara kelompok budaya, keberpihakan yang salah dari media massa khususnya televisi swasta dalam memberitakan peristiwa.

4. Radikalisme:

a. Sebab: Pemahaman yang keliru atau sempit tentang suatu ajaran yang dianutnya, Ketidakadilan sosial, Kemiskinan, Dendam politik dengan menjadikan ajaran yang dianutnya sebagai suatu motivasi untuk membenarkan tindakannya, Kesenjangan sosial atau irihati atas keberhasilan orang lain, kesenjangan ekonomi dan, ketidakmampuan sebagian anggota masyarakat untuk memahami perubahan yang demikian cepat terjadi, tidak adanya penanaman nilai-nilai kebangsaan yang terstruktural dan sistemik

b. Bentuk: Tidak hanya dalam bentuk aksi-aksi teror dan peledakan bom, melainkan juga penyebaran pemikiran-pemikiran radikal melalui media cetak dan jaringan internet, pemikiran yang fanatik terhadap suatu ajaran, menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan

c. Cara menanggulangi: perlu adanya hukum yang jelas mengenai radikalisme, membangun sistem demokrasi dengan empat pilar bangsa, masyarakat harus mempunyai filter untuk menangkal adanya radikalisme yaitu melalui pendidikan.

5. Pendidikan multikultural dalam konteks Indonesia

Indonesia adalah salah satu negara multikultural terbesar di dunia. Kenyataan ini dapat dilihat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Keragaman ini diakui atau tidak akan dapat menimbulkan berbagai persoalan, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, kemiskinan, kekerasan, perusakan lingkungan, separatisme, dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk menghormati hak-hak orang lain, merupakan bentuk nyata sebagai bagian dari multikulturalisme tersebut. Berkaitan dengan hal ini, pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat, khususnya yang ada pada siswa seperti keragaman etnis, budaya, bahasa, agama, status sosial, gender, kemampuan, umur, dll.

Pada konteks Indonesia, perbincangan tentang konsep pendidikan multikultural semakin memperoleh pasca runtuhnya rezim otoriter-militeristik Orde Baru karena hempasan badai reformasi. Era reformasi ternyata tidak hanya membawa berkah bagi bangsa kita namun juga memberi peluang meningkatnya kecenderungan primordialisme. Untuk itu, dirasakan kita perlu menerapkan paradigma pendidikan multikultural untuk menangkal semangat primordialisme tersebut.

Leave a comment »

Cara Menurunkan Kolesterol Jahat

makanan mengandung kolesterol jahat

makanan mengandung kolesterol jahat

Salah satu sumber penyakit adalah kolesterol jahat. Kolesterol jahat ini dapat menyerang siapa saja. Namun, dengan pola hidup sehat, pola makan tepat, serta olahraga cukup, anda sudah dapat menurunkan kolesterol.

Pada makanan terkandung 3 zat yaitukarbohidrat, protein, dan lemak. Setiap zat tersbeut mempunyai fungsi masing-masing. Karbohidrat merupakan sumber energi, protein memiliki fungsi mengganti sel yang rusak dan membantu pertumbuhan, sedangkan lemak di dalam tubuh akan menjadi dinding sel, pelarut vitamin, serta menciptakan enzim-enzim yang berguna bagi tubuh.

Meski mereka mempunyai fungsi masing-masing, namun saat makan tentu ke-3 zat ini harus dikonsumsi dengan porsi yang tepat. Karena jika tidak, maka akan menimbulkan masalah di dalam tubuh. yang paling menimbulkan masalah adalah lemak. Menurut P[rof. Dr. Hans Tandra PhD. SpPD-KEMD FINASIM FACE, pada lemak inilah mengandung kolesterol.

Karena menurut beliau ada 2 jenis lemak yaitu pertama HDL(High density lipoprotein) yang disebut sebagai kolesterol baik, karena ia membawakolesterol dari pembuluh darah ke hati untuk dipecahkan dan dikeluarkan, yang kedua LDL (Low density lipoprotein) dan inilah yang merupakan kolesterol jahat.  LDL atau kolesterol yang mempunyai kepadatan protein lebih rendah ini biasanya yang mudah menempel dan mengendap di pembuluh darah. Adanya LDL yang menempel dan mengendap inilah pangkal masalah atau sumber penyakit, diantaranya adalah jantung koroner. Ketika LDL menempel, mengendap, dan akhirnya terjadi penyempitan dan penytumbatan pembuluh darah di jantung, maka akibatnya adalah penyakit jantung koroner. begitu juga dengan stroke, penyakit ini bisa terjadi karena penyempitan pembuluh darah pada syaraf otak yang juga diakibatkan oleh LDL yang menyumbat. Dan bisa juga LDL menyumbat pada pembuluh darah di mata yang akan mengakibatkan kebutaan.

Adapun makanan-makanan yang mengandung kolesterol tinggi adalah daging merah (daging bebek, daging sapi), seafood (udang, kepiting, cumi-cumi), jeroan, kuning telur, santan, juga goreng-gorengan. Makanan yang sudah digoreng dan menghasilkan makanan yang kering atau kriuk, maka makanan itu sudah mengandung minyak jenuh yang tentunya mengandung kolesterol jahat.

Untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah, kita harus mengubah pola hidup menjadi pola hidup sehat. Berikut beberapa tips:

1. Makanan Sehat: yang dimaksud yaitu sayur-sayuran, buah, dan ikan. perbanyaklah mengkonsumsi makanan tersebut.

2. Olahraga: jika anda masih sering mengkonsumsi makanan dengan kadar kolesterol tinggi, maka minimalisir dengan gerak badan. Dengan berolahraga mini. 30 menit sehari dengan berjalan kaki, itu sudah cukup dan hal ini akan memperlambat penimbunan kolesterol.

3. Kurangi Karbo: Untuk yang sudah berusia diatas 50 tahun, maka harus mulai mengurangu porsi amakanan berkarbohidrat, misalnya mie, roti, dan nasi.

4. Hindari Rokok dan Stres: Rokok dapat membuat pembuluh darah makin sempit begitu juga denagn stres.

5. Berat Proporsional: Bagi anda yang mempunyai berat badan kurang proporsional, juga akan lebih cepat mengalami penyempitan pembuluh darah.

6. Perubahan Gaya Hidup: Anda harus mulai merubah pola gaya hidup. makan dengan teratur dengan porsi sesuai kebutuhan serta istirahat cukup.

7. Hindari Ngemil: Kebiasaan ngemil yan tidak sehat ini tentu juga tidak baik. jika ingin ngemil sebaiknya memilih buah saja untuk ngemil.

8. Jangan makan terlalu malam: kebiasaan makan yang terlalu malam ini membuat asupan makanan yang masuk tidak digunakan dan tertimbun di dalam tubuh dan tidak digunakan. oleh karena itu, biasakan tidak makan setelah pukul 7 malam.

Leave a comment »

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai