Model-model pembelajaran

Sistem pembelajaran sosial sangat terkait dengan sistem lingkungan belajar peserta didik. karena sistem sosial berfokus pada interaksi dengan orang lain, atau pengalaman interpersonal. Hubungan fasilitator (guru) – pembelajar (peserta didik)merupakan hal yang sangat penting untuk terwujudnya kondisi belajar yang mengoptimalkan potensi peserta didik. Sebagai seorang guru atau fasilitator, tanggung jawab utama kita adalah memberi iklim psikoligis dan fisik yang positif sehingga dapat mengorkestrasikan pembelajaran yang merupakan bagian utama dari pengembangan iklim emosional, intelektual dan sosial.
Dalam keadaan demikian guru berkolaborasi dengan siswa sebagai mitra setara dalam petualangan memecahkan masalah, alih-alih sebagai gudang informasi yang menyimpan dan membagikan jawaban atas semua masalah. Dengan keadaan seperti ini, maka sistem sosial otak akan belajar berkontrribusi terhadap pengambilan keputusan nyata oleh orang-orang lintas usia(guru-murid), ras, budaya, etnis, kemampuan intelektual, dan kecakapan akademis. Sekaligus mereka (peserta didik) belajar memandang perbedaan sebagai suatu kelebihan diantara mereka. Di sinilah akan terlihat suatu nilai bahwa peran guru sangat penting dalam meningkatkan toleransi dan pemahaman akan perbedaan.
Dalam model pembelajaran sosial terdapat beberapa model pembelajaran di antaranya:

A. MODEL PEMBELAJARAN YANG BERWAWASAN MASYARAKAT

1. Model Pembelajaran Partisipatif
a. Konsep Pembelajaran Partisipatif
Pembelajaran partisipatif pada intinya dapat diartikan sebagai upaya pendidik untuk mengikutsertakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yaitu dalam tahap perencanaan program, pelaksanaan program dan penilaian program.
Partisipasi pada tahap perencanaan adalah keterlibatan peserta didik dalam kegiatan mengidentifikasi kebutuhan belajar, permasalahan, sumber-sumber atau potensi yang tersedia dan kemungkinan hambatan dalam pembelajaran.
Partisipasi dalam tahap pelaksanaan program kegiatan pembelajaran adalah keterlibatan peserta didik dalam menciptakan iklim yang kondusif untuk belajar. Dimana salah satu iklim yang kondusif untuk kegiatan belajar adalah pembinaan hubungan antara peserta didik, dan antara peserta didik dengan pendidik sehingga tercipta hubungan kemanusiaan yang terbuka, akrab, terarah, saling menghargai, saling membantu dan saling belajar.
Partisipasi dalam tahap penilaian program pembelajaran adalah keterlibatan peserta didik dalam penilaian pelaksanaan pembelajaran maupun untuk penilaian program pembelajaran. Penilaian pelaksanaan pembelajaran mencakup penilaian terhadap proses, hasil dan dampak pembelajaran.

b. Ciri-ciri Pembelajaran Partisipatif
Berdasarkan pada pengertian pembelajaran partisipatif yaitu upaya untuk mengikutsertakan peserta didik dalam pembelajaran, maka ciri-ciri dalam kegiatan pembelajaran partisipatif adalah :
1) Pendidik menempatkan diri pada kedudukan tidak serba mengetahui terhadap semua bahan ajar.
2) Pendidik memainkan peran untuk membantu peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran.
3) Pendidik melakukan motivasi terhadap peserta didik untuk berpartisipasi dalam pembelajaran.
4) Pendidik menempatkan dirinya sebagai peserta didik.
5) Pendidik bersama peserta didik saling belajar.
6) Pendidik membantu peserta didik untuk menciptakan situasi belajar yang kondusif.
7) Pendidik mengembangkan kegiatan pembelajaran kelompok.
8) Pendidik mendorong peserta didik untuk meningkatkan semangat berprestasi.
9) Pendidik mendorong peserta didik untuk berupaya memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya.

c. Peran Pendidikan Dalam Pembelajaran
Peran pendidik dalam pembelajaran partisipatif lebih banyak berperan sebagai pembimbing dan pendorong bagi peserta didik untuk melakukan kegiatan pembelajaran sehingga mempengaruhi terhadap intensitas peranan pendidik dalam pembelajaran.
Pada awal pembelajaran intensitas peran pendidik sangat tinggi yaitu untuk menyajikan berbagai informasi bahan belajar, memberikan motivasi serta memberikan bimbingan kepada peserta dalam melakukan pembelajaran, tetapi makin lama makin menurun intensitas perannya digantikan oleh peran yang sangat tinggi dari peserta didik untuk berpartisipasi dalam pembelajaran secara maksimal.
Langkah-langkah yang harus ditempuh pendidik dalam membantu peserta didik untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran :
1) Membantu peserta didik dalam menciptakan iklim belajar
2) Membantu peserta didik dalam menyusun kelompok belajar.
3) Membantu peserta didik dalam mendiagnosis kebutuhan pelajar.
4) Membantu peserta didik dalam menyusun tujuan belajar
5) Membantu peserta didik dalam merancang pengalaman belajar
6) Membantu peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
7) Membantu peserta didik dalam penilaian hasil, proses dan pengaruh kegiatan pembelajaran.

2. Model Pendekatan Pembelajaran
a. Konsep Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
Pendekatan pembelajaran kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar dilihat dari proses transfer belajar, lingkungan belajar.
Dilihat dari proses, belajar tidak hanya sekedar menghapal. Dari transfer belajar, siswa belajar dai mengalami sendiri, bukan pemberian dari orang lain. Dan dilihat dari lingkungan belajar, bahwa belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa.
Pembelajaran kontekstual (contextual learning) merupakan upaya pendidik untuk menghubungkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik, dan mendorong peserta didik melakukan hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dalam penerapan pembelajaran kontekstual tidak lepas dari landasan filosofisnya, yaitu aliran konstruktivisme. Aliran ini melihat pengalaman langsung peserta didik (direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran.

b. Perbedaan Pembelajaran Kontekstual dan Pembelajaran Konvensional
Karakteristik model pembelajaran kontekstual dalam penerapannya di kelas, antara lain :
1) Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran
2) Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi
3) Pembelajaran dihubungkan dengan kehidupan nyata atau masalah
4) Perilaku dibangun atas kesadaran diri.
5) Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman
6) Peserta didik tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan.
7) Bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni peserta didik diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata.
Karakteristik model pembelajaran konvensional dalam penerapannya di kelas, antara lain :
1) Siswa adalah penerima informasi
2) Siswa cenderung belajar secara individual
3) Pembelajaran cenderung abstrak dan teori
4) Perilaku dibangun atas kebiasaan
5) Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
6) Peserta didik tidak melakukan yang jelek karena dia takut hukuman
7) Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural
Pembelajaran kontekstual memiliki perbedaan dengan pembelajaran konvensional, tekanan perbedaannya yaitu pembelajaran kontekstual lebih bersifat student centered (berpusat kepada peserta didik) dengan proses pembelajarannya berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan peserta didik bekajar dan mengalami. Sedangkan pembelajaran konvensional lebih cenderung teacher centered (berpusat kepada pendidik), yang dalam proses pembelajarannya siswa lebih banyak menerima informasi bersifat abstrak dan teoritis.

c. Komponen-komponen Pembelajaran Kontekstual
Peranan pendekatan pembelajaran kontekstual di kelas dapat didasarkan pada tujuh komponen, yaitu :
1) Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia didalam dirinya sedikit demi sedikit, yang hasilnya dapat diperluas melalui konteks yang terbatas.
2) Pencairan (inquiry)
Menemukan merupakan inti dari pembelajaran kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa merupakan hasil dari penemuan siswa itu sendiri.
3) Bertanya (Questioning)
Bertanya merupakan awal dari pengetahuan yang dimiliki seseorang. Bagi siswa kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiriy, yaitu untuk menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan pada aspek yang belum diketahui.
4) Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada komunikasi dua arah atau lebih, yaitu antara siswa dengan siswa atau antara siswa dengan pendidik apabila diperlukan atau komunikasi antara kelompok.
5) Pemodelan (Modeling)
Model dapat dirancang dengan melibatkan guru, siswa atau didatangkan dari luar sesuai dengan kebutuhan. Dengan pemodelan, siswa dapat mengamati berbagai tindakan yang dilakukan oleh model tersebut.
6) Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berfikir tentang sesuatu yang sudah dipelajari. Realisasi dari refleksi dalam pembelajaran dapat berupa:
a. Pernyataan langsung tentang sesuatu yang sudah diperoleh siswa
b. Kesan dan pesan/saran siswa tentang pembelajaran yang sudah diterimanya
c. Hasil karya
• Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
Assessment merupakan proses pengumpulan data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Assessment menekankan pada proses pembelajaran maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan pada saat melakukan proses pembelajaran.
Karakteristik authentic assessment, yaitu :
a. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran
Berlangsung
b. Dapat digunakan untuk formatif maupun sumatif
c. Yang diukur adalah keterampilan dan penampilan bukan mengingat fakta
d. Berkesinambungan
e. Terintegrasi
f. Dapat digunakan sebagai feed back

3. Model Pembelajaran Mandiri

a. Konsep Pembelajaran Mandiri
Dalam rangka menuju kedewasaan, seorang anak harus dilatih untuk belajar mandiri. Belajar mandiri merupakan suatu proses, dimana individu mengalami inisiatif dengan atau tanpa bantuan orang lain.
1) Dapat mengurangi ketergantungan pada orang lain
2) Dapat menumbuhkan proses alamiah perkembangan jiwa
3) Dapat menumbuhkan tanggung jawab pada peserta didik
Berdasarkan hal tersebut pendidik bukan sebagai pihak yang menentukan segala-galanya dalam pembelajaran, tetapi lebih berperan sebagai fasilitator atau sebagai teman peserta didik dalam memenuhi kebutuhan belajar mereka.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Belajar Mandiri
Banyak faktor yang mempengaruhi untuk tumbuhnya belajar mandiri, yaitu :
1) Terbuka terhadap setiap kesempatan belajar, belajar pada dasarnya tidak dibatas oleh waktu, tempat dan usia
2) Memiliki konsep diri sebagai warga belajar yang efektif, seseorang yang memiliki konsep diri berarti senantiasa mempersepsi secara positif mengenai belajar dan selalu mengupayakan hasil belajar yang baik
3) Berinisiatif dan merasa bebas dalam belajar, inisiatif merupakan dorongan yang muncul dari diri seseorang tanpa dipengaruhi oleh orang lain, seseorang yang memiliki inisiatif untuk belajar tidak perlu dirangsang untuk belajar.
4) Memiliki kecintaan terhadap belajar, menjadikan belajar sebagai bagian dari kehidupan manusia dimulai dari timbulnya kesadaran, keakraban dan kecintaan terhadap belajar.
5) Kreativitas. Menurut Supardi (1994), kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun kerja nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
Ciri perilaku kreatif yang dimiliki seseorang diantaranya dinamis, berani, banyak akal, kerja keras dan bebas. Bagi seseorang yang kreatif, tidak akan kuatir atau takut melakukan sesuatu sepanjang yang dilakukannya mengandung makna.
6) Memiliki orientasi ke masa depan. Seseorang yang memiliki orientasi ke masa depan akan memandang bahwa masa depan bukan suatu yang mengandung ketidakpastian.
7) Kemampuan menggunakan keterampilan belajar yang mendasar dan memecahkan masalah.

c. Peran Pendidik Dalam Belajar Mandiri
Dalam pembelajaran mandiri, tutor berperan sebagai fasilitator dan teman bagi peserta didik. Sebagai fasilitator, pendidik dapat membantu peserta didik dalam mengakrabi masalah yang dihadapi peserta didik, dan berupaya agar peserta didik dapat menemukan alternatif pemecahan masalah yang dihadapinya.
Peran lain yang harus dilakukan pendidik adalah sebagai teman. Pendidik berusaha menempatkan dirinya sama dengan peserta didik sebagai peserta yang mengharapkan nilai tambah dalam kehidupannya untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi, serta mengaktualisasikan dirinya.

B. KELOMPOK MODEL INTERAKSI SOSIAL
Model interaksi sosial adalah suatu odel pembelajaran yang beranjak dari pandangan bahwa segala hal sesuatu tidak terlepas dari realitas kehidupan, individu tidak mungkin melepaskan dirinya dari interaksi dengan orang lain. Karena itu proses pembelajaran harus dapat menjadi wahana untuk mempersiapkan siswa agar dapat berinteraksi secara luas dengan masyarakat.kelompok model-model sosial ini dirancang dengan memanfaatkan kerjasama antara siswa melalui berbagai bentuk kegiatan nyata aktivitas pembelajaran baik yang dilaksanakan di dalam kelas maupun di luar kelas. Kelompok model interaksi sosial ini meliputi sejumlah model yaitu:
1. Investigasi kelompok
Investigasi kelompok merupakan wahana untuk mendorong dan membimbing keterlibatan siswa di dalam proses pembelajaran. Sebagaimana diketahui bahwa keterlibatan siswa di dalam proses pembelajaran merupakan hal yang sangat esensial, karena siswa adalah sentral dari keseluruhan kegiatan pembelajaran.
Dalam pandangan Tsoi, Goh dan Chia (2001), model investigasi kelompok secara filosofis beranjak dari paradigma konstruktivis, dimana terdapat suatu situasi yang didalamnya siswa-siswa berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan berbagai informasi dan melakukan pekerjaan sevara kolaboratif untuk menginvestigasi suatu masalah, merencanakan, mempresentasikan serta mengevaluasikegiatan mereka. Karena itu model ini sangat sesuai untuk merespon kebutuhan-kebutuhan siswa akan pentingnya pengembangan kemampuan collaborative learning melalui kerja kelompok beranjak dari pengalaman masing-masing siswa guna mewujudkan interaksi sosial yang lebih baik.
2. Bermain Peran
Model ini dirancang khususnya untuk membantu siswa mempelajari nilai-nilai sosial dan moral dan pencerminannya dalam perilaku. Di samping itu model ini digunakan pula untuk membantu para siswa mengumpulkan dan mengorganisasikan isu-isu moral dan sosial, mengembangkan empati terhadap orang lain, dan berupaya memperbaiki keterampilan sosial. Sebagai model mengajar, model ini mencoba membantu individu untuk menemukan makna pribadi dalam dunia sosial dan berupaya memecahkan dilema-dilema sosial dengan bantuan kelompok.
Jika ditelaah dari esensinya, model bermain peran lebih menitikberatkan keterlibatan partisipan dan pengamat dalam situasi atau masalah nyata serta berusaha mengatasinya. Shaftel, dalam sebuah buku yang berjudul “Role Playing for Social Studies”, yang dibahas kembali oleh Sumantri dan Permana (1998/1999) menyarankan 9 langkah penerapan Role Playing di dalam penerapannya yaitu:
a. Membangkitkan semangat kelompok, memperkenalkan siswa dengan masalah sehingga mereka mengenalnya sebagai suatu bidang yang harus dipelajari
b. Pemilihan peserta, dimana guru dan siswa menggambarkan berbagai karakter/bagaimana rupanya, bagaimana rasanya, dan apa yang mungkin mereka kumukakan.
c. Menentukan arena panggung
d. Mempersiapkan pengama
e. Pelaksanaan kegiatan
f. Berdiskusi dan mengevaluasi
g. Melakukan lagi permainan peran
h. Berdiskusi dan evaluasi lagi
i. Berbagi pengalaman dan generalisasi

3. Model Penelitian Yurisprudensi
Pada dasarnya metode ini merupakan metode studi kasus dalam proses peradilan dan selanjutnya diterapkan dalam suasana belajar disekolah. Dalam model ini para siswa sengaja dilibatkan dalam masalah-masalah sosial yang menuntut pembuatan kebijakan pemerintah yang diperlukan serta berbagai pilihan untuk mengatasi isu tersebut, misalnya tentang konflik moral. Model ini bertujuan membantu siswa belajar berfikir secara sistematis tentang isu-isu muahir. Para siswa dituntut merumuskan isu-isu tersebut dan menganalisis pemikiran-pemikiran alternatif. Model ini potensial untuk digunakan dalam bidang studi yang membahas isu-isu kebijaksanaan umum, termasuk konflik moral dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: