Teori-teori belajar

1. TEORI DISIPLIN MENTAL
Dari sebelum abad ke-20 telah berkembang beberapa teori belajar diantaranya teori disiplin mental. Hingga sekarang teori tersebut masih dapat dirasakan di beberapa sekolah. Teori disiplin mental menganggap bahwa dalam belajar anak harus didisiplinkan dan dilatih. Ketika ada seorang pendidik ingin mengajar anak membaca, maka mula-mula pendidik memberikan daftar kata yang diinginkannya dengan menggunakan kartu dimana tertulis setiap kata itu, kemudian pendidik melatih anak-anak mereka, dan setiap hari diberi tes, dan siswa yang belum pandai harus kembali sesudah jam sekolah untuk dilatih lagi, menurutnya, kalau anak dilatih banyak mengulang-ngulang menghafal sesuatu, maka ia akan ingat terus mengani hal itu.
2. TEORI BEHAVIORISME
Rumpun teori ini disebut Behaviorisme karena sangat menekankan perilaku atau tinggkah laku yang dapat diamati. Tokohnya E.L Thorndike, Ivan Patrovich Pavlov, B.F Skinner, Clark C. Hull. Temuan penelitian para ahli ini dalam prinsipnya mempunyai kesamaan, yaitu bahwa perubahan tingkah laku terjadi karena semata-mata oleh lingkungan. Teori-teori dalam rumpun ini bersifat molecular, karena memandang kehidupan individu terdiri atas unsure-unsur seperti halnya molekul-molekul. Menurut teori ini tingkah laku manusia tidak lain dari suatu hubungan antara perangsang jawaban atau Stimulus Respons. Belajar adalah pembentukan hubungan Stimulus Respons sebanyak-banyaknya. Pembentukan hubungan Stimulus Respons dilakukan melalui ulangan-ulangan. Adapun ciri-ciri aliran Behaviorisme ini adalah :
a) Memerintahkan pengaruh lingkungannya
b) Mementingkan bagian-bagian daripada keseluruhannya
c) Mementingkan reaksi atau psikomotor
d) Mementingkan sebab-sebab masa lampau
e) Mengutamakan mekanisme terjadinya hasil belajar
f) Mementingkan pembentukan kebiasaan
g) Mengutamakan “trial and error”

Ada beberapa teori belajar yang termasuk pada rumpun Behavionisme ini antara lain :
a) Teori Koneksionisme
Koneksionisme merupakan teori yang paling awal dari rumpun Berhaviorisme. Teori belajar koneksionisme dikembangkan oleh Edward L. Trhorndike (1874-1949). Menurut thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indra. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atua gerakan/tindakan.
Selanjutnya dalam teori koneksionisme ini Thorndike mengemukakan hukum-hukum belajar sebagai berikut :
1) Hukum kesiapan ( Low Of Readiness )
Hukum readiness mengatakan individu yang siap untuk merespon serta merespon akan menghasilkan respon yang memuaskan.
2) Hukum latihan ( Low Of Exercise )
Hukum efek mengatakan bahwa reaksi-reaksi yang membawa kepuasan akan lebih mudah dihubungkan dengan suatu situasi. Sebaliknya, reaksi-reaksi yang tidak membawa kepuasan akan tidak mempunyai hubungan yang kuat dengan situasinya.
3) Hukum akibat ( Low Of Effect )
Hukum latihan menyatakan bahwa perulangan kegiatan menguatkan hubungannya antara reaksi dengan situasinya oleh Thorndike, situasi rangsang lingkungan yang aktuil.
b) Teori Pengkondisian ( conditioning )
Teori pengkondisian merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori Koneksionisme. Tokoh teori ini adalah Ivan Pavlov, Watson, dan Gutrie. Ia adalah ahli Psikologi Refleksiologi dari Rusia. Sebagaiman dijelaskan oleh Hendry C Ellis, bahwa dalam prosedur penelitiannya Pavlov menggunakan laboratorium binatang sebagai tempat penelitian. Sama halnya dengan Thorndike, dia juga percaya bahwa belajar pada hewan memiliki prinsip yang sama dengan manusia. Belajar atau pembentukan perilaku perlu dibantu dengan kondisi tertentu. Belajar merupakan suatu upaya untuk mengkondisikan pembentukan suatu perilaku atau respons terhadap sesuatu.
1) Teori Conditioning dari Pavlov
Dalam teori ini Pavlov mengadakan percobaan dengan menggunakan obyek yaitu anjing. Secara singkat adalah sebagai berikut: Seekor anjing yang telah dibedah sedemikian rupa, sehingga saluran kelenjar ludahnya tersembul melalui pipinya, dimasukan kedalam kamar gelap. Dikamar itu hanya ada sebuah lubang yang terletak di depan moncongnya, tempat menyodorkan makanan atau menyorotkan cahaya pada waktu diadakan percobaan. Pada moncongnya yang telah dibedah itu disambungkan sebuah pipa yang dihubungkan dengan sebuah tabung diluar kamar. Dengan demikian dapat diketahui keluar tidaknya air liur dari moncong anjing itu pada waktu diadakan percobaan, alat-alat yang digunakan dalam percobaan itu antara lain makanan, lampu senter, dan sebuah bunyi-bunyian.
Dari hasil percobaan yang dilakukan dengan anjing itu Pavlov mendapat kesimpulan bahwa gerakan-gerakan reflek itu dapat dipelajari, dapat berubah karena mendapat latihan latihan, sehingga dari hasil ini ia membedakan 2 macam refleks, yaitu refleks bawaan dan refleks hasil belajar. Sebenarnya hasil-hasil percobaan Pavlov dalam hubungannya dengan belajar yang kita perlukan sekarang ini adalah tidak begitu penting. Mungkin beberapa hal yang ada sangkut pautnya dengan belajar yang perlu diperhatikan antara lain ialah bahwa dalam belajar perlu adanya latihan-latihan dan kebiasaan-kebiasaan yang telah melekat pada diri dapat mempengaruhi dan bahkan mengganggu proses belajar yang bersifat skill.
2) Teori Conditioning Watson
Watson mengadakan percobaan dengan menggunakan seekor tikus dan kelinci. Dari hasil percobaannya, ia menarik kesimpulan bahwa perasaan takut pada dapat diubah atau dilatih. Anak percobaan Watson mula-mula tidak takut pada kelinci dilatih sehingga takut pada kelinci. Kemudian anak itu dilatih lagi sehingga menjadi tidak takt lagi pada kelinci. Demikian maka menurut teori conditining, belajar itu adalah sebuah proses perubahan yang terjadi karena syarat-syarat yang kemudian menimbulkan reaksi.
Untuk menjadikan seseorang itu belajar, haruslah kita memberikan syarat-syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar menurut teori kondisioning ialah adanya latihan-latihan yang kontinyu. Yang diutamakan dalam teori ini adalah hal belajar yang terjadi secara otomatis. Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil dari kondisioning, yaitu hasil daripada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap perangsang perangsang tertentu yang dialaminya dalam kehidupannya. Kelemahan daripada teori ini adalah teori ini menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan pencetaan pribadi dalam diri tidak dihiraukannya.
Peranan latihan atau kebiasaan terlalu ditonjolkan. Sedangkan kita tahu bahwa dalam bertindak dan berbuat sesuatu manusia tidak semata-mata tergantung pengaruh dari luar atau pribadinya sendiri memegang peranan dalam memilih dan menentukan perbuatan dab reaksi apa yang akan dilakukan.
3) Teori Conditioning Gutrie
Gutrie mengatakan bahwa tingkah laku manusia itu secara keseluruhan dapat dipandang sebagai serangkaian tingkah laku yang terdiri dari unit-unit. Didalam rangkaian tersebut unit-unit tingkah laku itu merupakan reaksi terhadap perangsang sebelumnya, dan kemudian unit tersebut menjadi stimulus pula yang kemudian reaksi/respon bagi unit tingkah laku berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga serangkaian unit-unit tingkah laku yang berikutnya. Jika dalam proses asosiasi antara unit-unit tingkah laku satu sama lain saling berurutan. Ulangan atau latihan yang berkali-kali memperkuat asosiasi yang tercepat antara unit tingkah laku yang satu dengan unti tingkah laku berikutnya.
Berikut ini adalah contoh sebagai penjelasan seorang ibu datang menanyakan kepada Gutrie, bahwa anak perempuannya setiap pulang dari sekolah selalu melemparkan tas dan pakaiannya ke sudut kamarnya. Kemudian ganti pakaian dan terusmakan tanpa meletakkan tas dan pakaiannya pada gantungan yang telah disediakan untyk itu. Teguran-teguran ibu untuk menggantungkan tas dan pakaiannya pada tempatnya hanya berlaku satu atau dua hari saja, sesudah itu kebiasaan yang buruk berulang lagi. Gutrie menyarankan (sesuai dengan teori conditioning) perbaikan seperti berikut: teguran itu jangan hanya menyuruh menggantungkan tas dan pakaiannya sesudah anak selesai makan, tetapi anak tersebut harus disuruh memakai pakaian itu lagi dan menyandang tasnya keluar rumah, kemudian begitu masuk rumah anak tersebut langsung disuruh menggantungkan tas dan pakaiannya, berganti pakaian, dan selanjutnya makan. Jadi proses berlangsungnya unit-unit tingkah laku itu harus diulang dari mula.

Metode-metode Gutrie
Beberapa metode yang dipergunakan Gutrie dalam mengubah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan pada hewan maupun pada manusia adalah:
a. Metode Reaksi Berlawanan (incompatible respose method)
Manusia itu adalah suatu organisme yang selalu mereaksi terhadap perangsang-perangsang tertentu. Jika suatu reaksi terhadap perangsang-perangsang telah menjadi suatu kebiasaan, maka cara untuk mengubahnya ialah dengan jalan menghubungi perangsang (stimulus) dengan reaksi (response) yang berlawanan dengan reaksi buruk yang hendak dihilangkan. Sebagai contoh, umpamanya seorang anak takut kepada kelinci. Waktu anak itu sedang memngalami takutnya kepada kelinci, berilah anak itu makanan yang disukainya supaya merasa senang.lakukanlah hal ini berkali-kali sehingga anak itu tidak takut lagi kepada kelinci.
b. Metode Membosankan (Exhaustion Method)
Hubungan atau asosiasi perangsang dan reaksi (S-R) pada tingkah laku yang buruk itu dibiarkan saja sampai lama mengalami perbuatan semacam itu, sehingga menjadi bosan. Sebagai contoh, umpamakan seorang anak yang berumur tiga tahun bermain-main dengan korek api. Pada waktu itu juga disuruh menghabiskan pentol-korek api satu pak sehingga menjadi bosan. Dan sesudah itu ia tak mau lagi bermain api.
c. Metode Mengubah Lingkungan (Change of Environment Method)
Ialah suatu metode yang dilakukan dengan jalan memutuskan atau memindahkan hubungan antara S dan R yang buruk yang akan dihilangkan. Atau dengan kata lain, menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang disebabkan oleh suatu perangsang (S) dengan merubah perangsang itu sendiri, misalnya: mengubah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan buruk yang dilakukan seorang anak itu kesekolah lain.
c) Teori Penguatan ( Reinforcement )
Kalau teori pengkondisian yang diberi kondisi adalah perangsangannya, maka pada teori penguatan yang dikondisi atau diperkuat adalah responsnya.
d) Teori Operant Conditioning
Tokoh utamanya adalah Skinner. Skinner memandang bahwa teori Pavlov tentang reflek berhasrat hanya tempat untuk menyatakan tingkah laku respon . tingkah laku respon yang terjadi dari suatu rangsangan. Skinner mendapatkan tingkah laku yang spesifik ditunjukan pada perangsan lingkungan yang diistilahkanya ‘’operan behavior’’. Oleh sebab itu teorinya disebut ‘’operant behavior conditioning .’’ percobaanya ‘’operant conditioning’’ atau instrumental conditioning’’
Percobaan dengan kotak yang ada pengungkitnya yang dapat tertekan dan mengeluarkan sedikit makanan /minuman yang jatuh atau tumpah pada ruang penyelidikan. Beberapa konsep yang berhubungan dengan operant conditioning:
1) Positive and negative reinforment. Baik reinforcer positif maupun reinforcer negatif keduanya dihubungkan dengan ditambahkan pertambahan tingkah laku yang sedang diperkuat. Yang dimaksud reinforce positif ialah penguatan yang menimbulkan kemungkinan untuk bertambah tingkah laku. Sedangkan negatif reinforce menunjuk berakhir suatu kejadian.
2) Shaping. Konsep yang menunjukan kepada proses tingkah laku suatu organisme yang makin lama makin dekat dengan tingkah laku yang diharapkan oleh pencoba.
3) Succestive approximation. Konsep yag menggambarkan teknik pembentukan tingkah laku. Dengan cara mengunakan reinforcement pada waktu yang tepat, pencoba akan dapat merubah respons yang sedang ia kondisikan.
4) Extinction. Konsep yang mengatakan bahwa jika reinforcement tidak ada maka terjadi pengurangan tingkah laku dan extinction akan terjadi terus menerus jika tidak ada reinforcement.
5) Chaining. Merangkaikan hubungan stimulus/response dimana suatu response akan menghasilkan berikutnya.
6) Schedule of reinforcement
a) fixed ratio schedule. Ratio disini menunjukan jumlah response, Fised ratio reinforcement bearti penetapan response yang dikehendaki dalam percobaan untuk memberikan hadiah.

b) Variable ratio schedule. Binatang coba diberikan hadiah pada jumlah response yang bervariasi , misalnya setiap tiga,lima, tujuh kali response atau berurutan variasi lain, schedule ini didasarkan atas usaha maksimal dari binatang coba.
c) Fixed interval schedule. Binatang diberi hadiah dalam jarak waktu tertentu , misalnya setiap lima detik , sepanjang hal itu untuk meresponse
d) Variable interval schedule. Binatang coba diberi hadiah pada variasi waktu, misalnya pada detik ke tiga, ke lima, ke lima, dan semacamnya. Salah atu keuntunganya dari continius schedule ialah pengondisian respon lebih cepat terjadi

Kerugianya metode Schedule of reinforcement ialah Jika reincoment dihentikan , maka extinction akan cepat terjadi. Sedangkan keuntungan dari variable schedule walaupun proses conditioning berjalan lama respon telah terkondisikan akan tahan lama untuk extinction.

e) Purposive Behavorisme Dari Tolman
Tolman telah mengembangkan teori yang dapat dipandang sebagai rantai penghubung antara aliran behaviorism dan teori gestalt dan mengawinkan keuntungan dari keduanya. Tolman menolak konsep reinforcement dalam hubunganya proses belajar. Dalam membedakan antara belajar dengan tingkah laku , ia berpendirian bahwa belajar terdiri berpasangan stimulus atau berasosiasi stimulus .
Tolman mengunakan istilah significant (nama dengan reconditioned stimulus pada Thorndike) dan sign (conditioned stimulus thorndike) yang dipakai menjelaskan peristiwa stimulus suatu response yang significant jika dihubungkan dengan sign maka aka nada ikatan dengan sign. Kemudian sign akan mjemimpin hewan coba mengharapkan timbul response yang significant ( misalnya makanan pada percobaan Pavlov). Tingkah laku kegiatan yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu . binatang coba mengikuti sign dengan harapan dapat memperoleh suatu tujuan.
Bagi Tolman, belajar dapat terjadi dari setiap performance yang berbareng . inilah yang disebut ‘’latent learning”. Menurut Tolman, motivasi itu mempengaruhi belajar.
f) Teori belajar menurut Clark C. Hull
Dalam teorinya ia mengatakan bahwa suatu kebutuhan harus ada pada diri seseorang yang sedang belajar, kebutuhan itu dapat berupa motif, maksud, ambisi, atau aspirasi. Dalam hal ini efisiensi belajar tergantung pada besarnya tingkat pengurangan dan kepuasan motif yang menyebabkan timbulnya usaha belajar individu.
Prinsip penguat (reinforcer) menggunakan seluruh situasi yang memotivasi, mulai dari dorongan biologis yang merupakan kebutuhan utama seseorang sampai pada hasil-hasil yang memberikan ganjaran bagi seseorang. Jadi pada diri seseorang harus ada motif sebelum belajar terjadi atau dilakukan.
g) Modern Social Learning Theory Dari Bandura
Bandura dkk telah mengembangkan teori Social Learning yang didasarkan pada prinsip imitation and modeling. Bandura memperkenalkan No Trial Learning-Learning by Observation. Proses belajar dalam Social Learning terjadi sebagai berikut: seorang anak mengamati model melakukan beberapa kegiatan, jika anak itu diberi kesempatan untuk melakukan beberapa kegiatan dan hal yang sama, pasti anak akan bertingkah laku dengan cara yang sama (proses imitasi = peniruan).
Hasil studi Bandura dalam hal ini sebagai berikut: ada 2 kelompok anak. Kelompok pertama diberi kesempatan melihat perilaku model, yaitu sekelompok orang dewasa yang beramai-ramai menyerbu boneka yang baru. Kelompok kedua tidak diberi kesempatan melihat perilaku model. Setelah kedua kelompok dimasukkan ke dalam ruangan yang berisi boneka, maka kelompok pertama secara beramai-ramai menyerbu boneka lucu, sementara kelompok kedua tidak. Reinforcement model nampaknya mendorong kea rah tingkah laku yang lebih tinggi, namun cara ini tidak mendorong untuk belajar baru. Jelas kiranya bahwa baik karakteristik penonton dan model sangat mempengaruhi derajat imitation sebagai hasil dalam social learning.

3. TEORI KOGNITIF
Teori kognitif dikembangkan oleh para ahli psikologi Kognitif. Tokohnya Kohler, Max Wertheimes, Kurt Lewin, dasar teori belajar tokoh ini sama. Yaitu dalam belajar terdapat kemampuan mengenal lingkungan, sehingga lingkungan tidak otomatis mempengaruhi manusia teori ini berbeda dengan Behaviorisme, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalh mengetahui dan bukan respons. Teori ini menekankan pada peristiwa mental, bukan hubungan Stimulus-respons.
Teori Gestalt, berkembang dijerman dengan pendirinya yang utama adalah Max Werthaimer, menurut Gestalt belajar siswa harus memahami makna hunungan anatar satu bagian dengan bagian lainnya. Belajar adalah mencari dan mendapatkan prognanz, menemukan keteraturan, keharmonisan dari sesuatu. Teori medan atau Field, menurut teori ini individu selalu berada dalam suatu medan atau ruang hidup. Dalam medan hidup ini ada suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi untuk mencapainya selalu ada hambatan. Jadi perbedaan pandangan antara pendekatan Behavioristik dengan Kognitif adalah sebagai berikut :
a. Proses atau peristiwa belajar seseorang, bukan semata-mata antara ikatan Stimulus, Respons, melainkan juga melibatkan proses kognitif
b. Dalam peristiwa belajar tertentu yang sangat terbatas ruang lingkupnya misalnya belajar meniru sopan santun dimeja makan dan bertegur sapa. Peranan ranah cipta siswa tidak begitu menonjol, meskipun sesungguhnya keputusan untuk meniru atau tidak ada pada diri orang itu sendiri. Ciri-ciri aliran ini adalah :
a) Mementingkan apa yang ada dalam diri manusia
b) Mementingkan keseluruhan dari pada bagian-bagian
c) Mementingkn peranan kognitif
d) Mementingkan kondisi waktu sekarang
e) Mementingkan pembentukan struktur kognitif
f) Mengutamakan “in right” (pengertian)
Tokoh-tokoh Teori Belajar Psikologi Kognitif
a) Mex Wertheirmer (1880 – 1943)
Ia adalah peletak dasar psikologi Gestalt, yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Suatu konsep terpenting dalam Psikologi Gestalt adalah tentang “insight” yaitu pengamatan/pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian di dalam sutu situasi permasalahan. Contoh insight seperti pernyataan spontan “aha” atau “ooh” atau I see now. Wertherimer menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian, bukan hafalan akademis. Menurut pendapat Gestaltis, semua kegiatan belajar menggunakan insight atau pemahaman terhadap hubungan-hubungan, terutama hubungan-hubungan antara bagian keseluruhan. Tingkat kejelasan atau keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan belajar seseorang daripada dengan hukuman dan ganjaran.
b) Kohler
Wolfgang kohler memperkenalkan penelitiannya yang berkaitan dengan insight learning. Teori yang menekankan akan pemahaman atas suatu proses pembelajaran. Teori ini juga mengutamakan pengertian dalam proses belajar mengajar, jadi bukan ulangan seperti halnya teori terdahulu. Dengan demikian menurut teori ini belajar merupakan perubahan kognitif (pemahaman). Belajar bukan hanya ulangan tetapi perubahan struktur pengertian. Dengan demikian teori belajar ini berhaluan pada pandangan belajar konstruktivistik. Dalam teori insight in learning terdapat trial dan error, tetapi tidak seperti tafsiran Thorndike (belajar ngabur). Dalam semua belajar didahului trial dan error. Trial dan error mempunyai peranan dalam timbulnya insight. Pada teori Thorndike tidak ada tujuan, otomatis, tanpa konsep, sedang pada Insight in learning ada tujuan dengan konsep. Insight learning dapat digunakan dalam situasi yang serupa.
EKSPERIMEN KOHLER
Untuk mendukung teorinya, Wolfgang Kohler melakukan eksperimen pada Simpanse. Eksperimen tersebut dilakukan di Pulau Canary tahun 1913 – 1920. Berikut ini adalah eksperimen yang dilakukannya:
Eksperimen I
Wolfgang Kohler membuat sebuah sangkar yang didalamnya telah disediakan sebuah tongkat. Simpanse kemudian dimasukkan dalam sangkar tersebut, dan di atas sangkar diberi buah pisang. Melihat buah pisang yang tergelantung tersebut, Simpanse berusaha untuk mengambilnya namun selalu mengalami kegagalan. Dengan demikian Simpanse mengalami sebuah problem yaitu bagaimana bisa mendapatkan buah pisang agar dapat dimakan. Karena didekatnya ada sebuah tongkat maka timbullah pengertian bahwa untuk meraih sebuah pisang harus menggunakan tongkat tersebut.
Eksperimen II
Pada eksperimen yang kedua masalah yang dihadapi oleh Simpanse masih sama yaitu bagaimana cara mengambil buah pisang. Namun di dalam sangkar tersebut diberi dua tongkat. Simpanse mengambil pisang dengan satu tongkat, namun selalu mengalami kegagalan karena buah pisang diletakkan semakin jauh di atas sangkar. Tiba-tiba muncul insight (pemahaman) dalam diri Simpanse untuk menyambung kedua tongkat tersebut. Dengan kedua tongkat yang disambung itu, Simpanse menggunakannya untuk mengambil buah pisang yang berada di luar sangkar. Ternyata usaha yang dilakukan oleh Simpanse ini berhasil.
Eksperimen III
Dalam eksperimen yang ketiga Wolfgang Kohler masih menggunakan sangkar, Simpanse, dan buah pisang. Namun dalam eksperimen ini di dalam sangkar diberi sebuah kotak yang kuat untuk bisa dinaiki oleh Simpanse. Pada awalnya Simpanse berusaha meraih pisang yang digantung di atas sangkar, tetapi ia selalu gagal. Kemudian Simpanse melihat sebuah kotak yang ada di dalam sangkar tersebut, maka timbullah insight (pemahaman) dalam diri Simpanse yakni mengambil kotak tersebut untuk ditaruh tepat dibwah pisang. Selanjutnya, Simpanse menaiki kotak dan akhirnya ia dapat meraih pisang tersebut.
Eksperimen IV
Eeksperimen yang keempat masih sama dengan eksperimen yang ketiga, yaitu buah pisang yang diletakkan di atas sangkar dengan cara agak ditinggikan, sementara di dalam sangkar diberi dua buah kotak. Semula Simpanse hanya menggunakan kotak satu untuk meraih pisang, tetapi gagal. Simpanse melihat ada satu kotak lagi di dalam sangkar dan ia menghubungkan kotak tersebut dengan pisang dan kotak yang satunya lagi. Dengan pemahaman tersebut, Simpanse menyusun kotak-kotak itu dan ia berdiri di atas susunan kotak-kotak dan akhirnya dapat meraih pisang di atas sangkar dengan tangannya.
Rumusan Teori Kohler
Dari eksperimen-eksperimen tersebut, Kohler menjelaskan bahwa Simpanse yang dipakai untuk percobaan harus dapat membentuk persepsi tentang situasi total dan saling menghubungkan antara semua hal yang relevan dengan problem yang dihadapinya sebelum muncul insight. Dari percobaan-percobaan tersebut menunjukkan Simpanse dapat memecahkan problemnya dengan insightnya, dan ia akan mentransfer insight tersebut untuk memecahkan problem lain yang dihadapinya. (Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni, 2008). Insight adalah didapatkannya pemecahan problem, dimengertinya persoalan; inilah inti belajar. Jadi yang penting bukanlah mengulang-ulang hal yang harus dipelajari, tetapi mengertinya, mendapatkan insight. Proses belajar yang menggunakan insight (insightfull learning) mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Insight tergantung kepada keampuan dasar. Kemampuan dasar yang dimiliki individu masing-masing berbeda-beda satu dengan yang lain. Biasanya perbedaan tersebut terletak pada usia, pada usia yang masih sangat muda lebih sukar belajar dengan insight.
2) Insight tergantung kepada pengalaman masa lampau yang relevan. Walaupun insight itu tergantung pada pengalaman masa lampau yang relevan, namun belum merupakan jaminan bahwa memiliki pengalaman masa lampau tersebut dapat memecahkan problem.
3) Insight tergantung kepada pengaturan secara eksperimental. Insight itu hanya mungkin terjadi apabila situasi belajar itu diatur sedemikian rupa sehingga segala aspek yang dibutuhkan dapat diobservasi.
4) Insight didahului dengan periode mencari dan mencoba-coba. Sebelum dapat memperoleh insight orang harus sudah meninjau problemnya dari berbagai arah dan mencoba-coba memecahkannya.
5) Belajar dengan menggunakan insight itu dapat diulangi. Jika suatu problem yang telah dipecahkan dengan insight lain kali diberikan kepada peserta didik yang bersangkutan, maka dia akan langsung dapat memecahkan problem itu lagi.
6) Insight yang telah terbentuk (sudah didapatkan) dapat dipergunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang baru.
c) Jerome S Bruner
Bruner menyatakan bahwa inti belajar adalah bagaimana orang memilih, mempertahankan, dan mentransformasikan informasi secara aktif. Menurut Bruner selama kegiatan belajar berlangsung hendakanya siswa dibiarkan untuk menemukan sendiri (discovery learning) makna segala sesuatu yang dipelajari. Dalam hal ini siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk berperan dalam memecahkan masalah. Dengan cara tersebut diharapkan mereka mampu memahami konsep-konsep dalam bahasa mereka sendiri.
d) David Ausubel
Ia mengemukakan teori belajar yaitu teori belajar bermakna. Belajar dapat diklasifikasikan dalam dua dimensi, yaitu Dimensi yang berhubungan dengan cara informasi atau materi pelajaran disajikan kepada siswa melalui penerimaan atau penemuan dan dimensi yang menyangkut cara bagaimana siswa dapat mengabaikan informasi pada struktur kognitif yang ada. Struktur kognitif adalah fakta, konsep, dan generalisasinya yang telah dipelajari dan diingat siswa.
Dalam implementasinya, teori ini terdiri dari dua fase, aitu mula-mula ia menyangkut pemberian “the organizer” atau materi pendahuluan diberikan sebelum kegiatan berlangsung dan dalam tingkat abstraksi. Fase berikutnya dimana organisasinya lebih spesifik dan terarah.
e) Field Theory Dari Lewin
Field Theory (teori medan) muncul dari studi tentang fisika dan matematika, terutama sebagai cabang matematika yaitu topologi. Lewin tidak setuju jika dalam memahami tingkah laku melalui bagian-bagian kecil. Lewin berpendapat bahwa tingkah laku adalah fungsi pribadi dan lingkungannya yang dinyatakan dalam dalam rumus:
B = f (P – E), di mana:
B = Behavior P = Personality
f = function E = Environment
Teori ini menghubungkan individu dengan lingkungannya. Berarti makna psikologis yang dimiliki oleh seorang individu berada pada medan dimana makna itu diperolehnya.
Beberapa faktor yang mempengaruhi pemaknaan sebagai satu keterpaduan pribadi dan lingkungan dalam teori medan, yaitu:
a. Life Space
Hal yang termasuk life space yaitu persepsi seseorang terhadap orang lain, pengaruh kebudayaan, benda fisik, konsep-konsep dan berbagai stimulus yang bersinggungan secara psikologis dengan individu.
b. Differentiation
Sebagai konsekuensi konsep life space, maka setiap individu berkembang dalam perbedaan dan keunikannya. Life space seseorang berkembang dari sesuatu yang secara relative tidak dikenal, dan baginya merupakan daerah yang tak terjelajahi yang kemudian menjadi dimengerti lebih baik dan terorganisir.
c. Motivation
Motivasi termasuk factor-faktor yang mengarahkan kekuatan, keberanian, penguatan, daya tarik terhadap obyek tujuan daerah life space.

4. TEORI HUMANISTIK
Menurut teori humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditunjukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Teori humanistic sangat mementingkan isi yang dipelajari daripada proses belajar itu sendiri. Berikut adalah tokoh-tokoh penganut aliran humanistik:
a) Arthur Combs (1912-1999)
Bersama dengan Donald Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dari ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Untuk itu guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain.
Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya. Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.
b) Abraham Maslow
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self).
Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut: Kebutuhan fisiologis/dasar, kebutuhan akan rasa aman dan tentram, kebutuhan untuk dicintai dan disayangi, kebutuhan untuk dihargai, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri
c) Carl Rogers
Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:
1) Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2) Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa
3) Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4) Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.
Dari bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya ialah:
1) Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
2) Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
3) Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
4) Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
5) Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
6) Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
7) Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
8) Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
9) Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
10) Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan
5. TEORI BELAJAR SIBERNETIK
Teori belajar sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingkan teori-teori belajar lainnya. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan ilmu informasi. Menurut teori sibernetik, belajar adalah pemrosesan informasi. Teori ini lebih mementingkan sistem informasi dari pesan atau materi yang dipelajari. Bagaimana proses belajar akan berlangsung sangat ditentukan oleh sistem informasi dari pesan tersebut. Oleh sebab itu, teori sibernetik berasumsi bahwa tidak ada satu jenispun cara belajar yang ideal untuk segala situasi. Sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi.
Teori ini telah dikembangkan oleh para penganutnya, antara lain seperti pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Gage dan Berliner, Biehler dan Snowman, Baine, serta Tennyson.
Bahwa proses pengolahan informasi dalam ingatan dimulai dari proses penyandian informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan informasi (storage), dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan (retrieval). Ingatan terdiri dari struktur informasi yang terorganisasi dan proses penelusuran bergerak secara hirarkis, dan informasi yang paling umum dan inklusif ke informasi yang paling umum dan rinci, sampai informasi yang diinginkan diperoleh.
Konsepsi Landa dengan model pendekatannya yang disebut algoritmik dan heuristik mengatakan bahwa belajar algoritmik menuntut siswa untuk berpikir sistematis, tahap demi tahap, linear, menuju pada target tujuan tertentu, sedangkan belajar heuristik menuntut siswa untuk berpikir devergen, menyebar ke beberapa target tujuan sekaligus.
Pask dan Scott membagi siswa menjadi tipe menyeluruh atau wholist, dan tipe serial atau serialist. Mereke mengatakan bahwa siswa yang bertipe wholist cenderung mempelajari sesuatu dari yang paling umum menuju ke hal-hal yang lebih khusus, sedangkan siswa dengan tipe serialist dalam berpikir akan menggunakan cara setahap demi setahap atau linear.
6. TEORI BELAJAR REVOLUSI-SOSIOKULTURAL
Timbul keprihatinan terhadap perubahan kehidupan masyarakat dewasa ini dengan maraknya berbagai problem sosial seperti ancaman disintegrasi yang disebabkan oleh fanatisme dan primordialisme, dan di lain pihak adanya tuntutan pluralisme. Perubahan struktur dan lunturnya nilai-nilai kekeluargaan, serta merebaknya kejahatan yang disebabkan oleh lemahnya social capital (modal sosial) mendorong mereka yang bertanggung jawab dibidang pendidikan untuk mengkaji ulang paradigma pendidikan dan pembelajaran yang menjadi acuan selama ini. Tentu saja pendidikan bukan satu-satunya lembaga yang harus bertanggung jawab untuk mengatasi semua masalah tersebut. Namun pendidikan mempunyai kontribusi besar dalam upaya mengatasi berbagai persoalan sosial.
Aliran behavioristik yang banyak digunakan dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran selama ini kurang dapat menjawab masalah-masalah sosial. Pendekatan ini banyak dianut dalam praktek-praktek pendidikan dan pembelajaran mulai dari pendidikan tingkat yang paling dini hingga paling tinggi, namun ternyata tidak mampu menjawab masalah-masalah dan tuntutan kehidupan global. Hasil pendidikan tidak mampu menumbuhkembangkan anak-anak untuk lebih menghargai perbedaan dalam konteks sosial budaya yang beragam. Mereka kurang mampu berpikir kreatif, kritis dan produktif, tidak mampu mengambil keputusan, memecahkan masalah dan berkolaborasi, serta pengelolaan diri.
Pendekatan kognitif dalam belajar dan pembelajaran yang ditokohi oleh Piaget yang kemudian berkembang ke dalam aliran konstruktivistik juga masih dirasakan kelemahannya. Teori ini bila dicermati ada beberapa aspek yang dipandang dapat menimbulkan implikasi kontraproduktif dalam kegiatan pembelajaran, karena lebih mencerminkan ideologi individualisme dan gaya belajar sokratik yang lazim dikaitkan dengan budaya Barat. Pendekatan ini kurang sesuai dengan tuntutan revolusi-sosiokultural yang berkembang akhir-akhir ini.
Pandangan yang dianggap lebih mampu mengakomodasi tuntutan sociocultural-revolution adalah teori belajar yang dikembangkan oleh Vygotsky. Dikemukakan bahwa peningkatan fungsi-fungsi mental seseorang terutama berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya, dan bukan sekedar dari individu itu sendiri. Teori Vygotsky sebenarnya lebih tepat disebut sebagai pendekatan ko-konstruktivisme.
Konsep-konsep penting dalam teorinya yaitu genetic low of development, zona of proximal development, dan mediasi, mampu membuktikan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial-budaya dan sejarahnya. Perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang seturut dengan teori sociogenesis. Dimensi kesadaran sosial bersifat primer sedangkan dimensi individual bersifat sekunder.
Berdasarkan teori Vygotsky maka dalam kegiatan pembelajaran hendaknya anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proximalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang. Guru perlu menyediakan berbagai jenis dan tingkatan bantuan (helps/cognitive scaffolding) yang dapat memfasilitasi anak agar mereka dapat memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Bantuan dapat dalam bentuk contoh, pedoman, bimbingan orang lain atau teman yang lebih berkompeten. Bentuk-bentuk pembelajaran kooperatif-kolaboratif serta belajar kontekstual sangat tepat digunakan. Sedangkan anak yang mampu belajar sendiri perlu ditingkatkan tuntutannya, sehingga tidak perlu menunggu anak yang berada dibawahnya. Dengan demikian perlu pemahaman yang tepat tentang karakteristik siswa dan budayanya sebagai pijakan dalam pembelajaran.

B. IMPLEMENTASI TEORI BELAJAR
1. TEORI DISIPLIN MENTAL
Ketika ada seorang pendidik ingin mengajar anak membaca, maka mula-mula pendidik memberikan daftar kata yang diinginkannya dengan menggunakan kartu dimana tertulis setiap kata itu, kemudian pendidik melatih anak-anak mereka, dan setiap hari diberi tes, dan siswa yang belum pandai harus kembali sesudah jam sekolah untuk dilatih lagi, menurutnya, kalau anak dilatih banyak mengulang-ngulang menghafal sesuatu, maka ia akan ingat terus mengani hal itu.
2. TEORI BEHAVIORISME
Belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Perubahan perilaku dapat berwujud sesuatu yang konkret atau yang non konkret, berlangsung secara mekanik memerlukan penguatan. Aplikasi teori belajar behaviorisme dalam pembelajaran, tergantung dari beberapa hal seperti tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Teori ini menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materinya mengikuti urutan dari bagian-bagian ke keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil. Berikut adalah beberapa contoh aplikasi teori belajar behaviorisme menurut tokoh-tokoh antara lain :
a. Aplikasi Teori Pavlov
Contohnya yaitu pada awal tatap muka antara guru dan murid dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru menunjukkan sikap yang ramah dan memberi pujian terhadap murid-muridnya, sehingga para murid merasa terkesan dengan sikap yang ditunjukkan gurunya.
b. Aplikasi Teori Thorndike
• Sebelum guru dalam kelas mulai mengajar, maka anak-anak disiapkan mentalnya terlebih dahulu. Misalnya anak disuruh duduk yang rapi, tenang dan sebagainya.
• Guru mengadakan ulangan yang teratur, bahkan dengan ulangan yang ketat atau sistem drill.
• Guru memberikan bimbingan, pemberian hadiah, pujian, bahkan bila perlu hukuman sehingga memberikan motivasi proses belajar mengajar.
c. Aplikasi Teori Skinner
Guru mengembalikan dan mendiskusikan pekerjaan siswa yang telah diperiksa dan dinilai sesegera mungkin.
3. APLIKASI TEORI HUMANISTIK
Belajar adalah menekankan pentingnya isi dari proses belajar bersifat eklektik, tujuannya adalah memanusiakan manusia atau mencapai aktualisasi diri. Aplikasi teori humanistik dalam pembelajaran guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar. Hal ini dapat diterapkan melalui kegiatan diskusi, membahas materi secara berkelompok sehingga siswa dapat mengemukakan pendapatny masing-masing di depan kelas. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila kurang mengerti terhadap materi yang diajarkan.Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
Guru yang baik menurut teori ini adalah : Guru yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis, mampu berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar.Ruang kelads lebih terbuka dan mampu menyesuaikan pada perubahan. Sedangkan guru yang tidak efektif adalah guru yang memiliki rasa humor yang rendah ,mudah menjadi tidak sabar ,suka melukai perasaan siswa dengan komentsr ysng menyakitkan,bertindak agak otoriter, dan kurang peka terhadap perubahan yang ada.
4. TEORI KOGNITIF
Hakekat belajar menrut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perceptual, dan proses internal. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa. Berikut adalah beberapa prinsip yang harus dipenuhi dalam proses pembelajaran ketika menggunakan teori kognitif:
a. Siswa bukan sebagai orang dewasa yang mud adala proses berpikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melaui tahap-tahap tertentu.
b. Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena degan hany mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.
c. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengalaman atau informasi baru.
d. Adanya perbedaan individu pada diri siswa perlu diperhatikan.
e. Agar bermakna, informasi baru harus disesuaikan dan dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa.
5. TEORI BELAJAR SIBERNETIK
Aplikasi teori pengolahan informasi dalam pembelajaran antara lain dirumuskan dalam teori Gagne dan Briggs yang mempreskripkan adanya (1) kapabilitas belajar, (2) peristiwa pembelajaran, dan (3) pengorganisasian/urutan pembelajaran.
6. TEORI BELAJAR REVOLUSI-SOSIOKULTURAL
Pada setiap perencanaan dan implementasi pembelajaran perhatian guru harus dipusatkan kepada kelompok anak yang tidak dapat memecahkan masalah belajar sendiri. Guru perlu mennyediakan berbagai jenis dan tingkat bantuan yang dapat memfasilitasi anak agar mereka dapat memecahkan masalah yang sedang dihadapinya. Bimbingan atau bantuan dari orang dewasa atau teman yang lebih kompeten sangat efektif untuk meningkatkan produktifitas belajar. Bantuan-bantuan tersebut tentunya harus sesuai dengan konteks sosio-kultural atau karakteristik anak.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: